Sabtu, 19 Oktober 2019

Tuhan...Saya Tidak Takut



Detak jantung terus berbunyi seiring dengan hitungan denyut nadi. Begitulah kehidupan yang terus berjalan mulai dari detik demi detik, berganti menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun. Berbeda halnya dengan kuasa Tuhan yang tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan kehendakNya, cukup mengatakan "Kun Fayakun" maka jadilah. Semua ciptaannya berguna tanpa terkecuali apalagi manusia.

Tuhan telah menitipkan sebuah roh di dalam rahim Bunda Zainab sekitar 22 tahun lalu. Kini gadis itu tumbuh dewasa bernama "Fitriya Kulsum". Sebenarnya arti namanya penuh misteri sampai saat ini, dicari dalam Al-Qur'an tidak menemukan tulisan arab "Kulsum". Hal yang diketahui adalah nama seorang putri Rasulullah yang wafat mendahului ayahandanya. Berharap mewarisi kepribadian baik seperti Ummi Kultsum yang terus melekat pada dirinya.

Kalian tau siapa gadis tersebut ?
Apakah kembaran saya ?
Jelas bukan, dia adalah saya sendiri.
Mungkin orang bosan mendengar kisah hidup saya, tapi saya tidak pernah bosan untuk menceritakan. Selama ini orang yang mengenal saya hanya tau sepenggal kisah saja.

Saya sudah menjalani lika-liku kehidupan sejak bayi, bagaimana bisa ?.
Kisah ini berawal sejak saya berumur 9 bulan, takdir pahit yang harus dialami berpisah dengan Bapak kandung. Hanya ada satu kalimat yang jadi penguat hingga saat ini.

"Tuhan...Saya tidak takut"

Waktu itu saya belum paham dunia,  mungkin jika peristiwa itu dialami saat sudah dewasa maka dipastikan pemberontakan akan terjadi. Apa daya saya hanya bisa menangis tanpa kedua orang tua paham akan kode tangisan itu.

"Tuhan...Saya tidak takut"

Engkau selalu memberikan kejutan dengan hadirnya keempat bàpak setelah Bapak kandung. Pilihan akhirnya jatuh pada no 4, hingga saat ini saya memanggilnya Bapak Zainuddin. Nama yang serasi bersanding dengan Bunda Zainab yang sudah Tuhan jodohkan untuk mengasuh saya sejak kecil. Saya sangat mengagumi sosok Bunda Zainab atas ikhtiarnya mencarikan bapak terbaik untuk putri sulungnya. Bunda ingin saya hidup layaknya anak yang mendapat kasih sayang seutuhnya dari kedua orang tua lengkap.

"Tuhan...Saya tidak takut"

Engkau mendatangkan cobaan silih berganti. Peristiwa saat kelas 3 SD mendapat kabar tamparan petir, perih sakit dan sangat terluka. Bisa kalian bayangkan ? Bapak kandung saya menikahi seorang perawan dan mengaku perjaka sejak awal lamaran. Apa yang kalian fikirkan ?.
Iya, Bapak kandung saya menutupi identitasnya termasuk darah dagingnya sendiri karena suatu hal. Itulah alasannya tertulis nama Bapak Zainuddin di akte kelahiran saya, bukan nama Bapak kandung.

"Tuhan...Saya tidak takut"

Kisah saya berlawanan dengan dongeng "Malin Kundang", seorang anak yang tidak mengakui orang tuanya. Saya justru yang tidak diakui oleh Bapak. Saya sangat benci dulu sama Bapak, tapi saat dewasa dijelaskan alasannya akhirnya mau tidak mau harus menerima kenyataan yang sudah berlalu. Kini saya cinta damai dengan Bapak Kandung. Bagaimanapun saya butuh Bapak sebagai wali nikah nanti dan beliau adalah perantara saya terlahir ke dunia. Terima kasih Bapak Marsuki.

"Tuhan...Saya tidak takut"

Saat Engkau berikan ujian
Saat Engkau berikan musibah
Saya tau itu tanda cinta Maha Pencipta pada ciptaanNya

Mungkin dulu jika Fitri kecil tidak diuji
Tidak mungkin akan setegar saat ini
Tidak mungkin akan memiliki mimpi tinggi

Hidup adalah petualangan
Membawa banyak pengalaman
Sebelum kembali ke pangkuanNya

Wahai akhi...
Wahai ukhti...
Jangan larut bersedih hati

Kalian tidak sendiri
Ada Ilahi Robbi
Tempat berserah diri

Jangan merasa paling menderita
Bersyukurlah diuji
Karena pohon semakin tinggi pun tetap diterpa angin

Kalian mau naik kelas ?
Jangan takut melewati ujian
Salah satu proses menikmati kehidupan

Mulai saat ini jangan bersedih hati
Ikhlas pada rencana Ilahi
InsyaAllah jalan hidup selalu diterangi

"Tuhan...Saya tidak takut"
Terima kasih menjadikan saya sosok pemberani
Berani bermimpi dan wujudkan dalam aksi

Semua Hamba Tuhan berhak bahagia
Sedih sewajarnya saja
Bangkit lagi dan jangan pernah putus asa.

Sobat...mari renungkan sejenak atas nikmat Tuhan yang tidak mampu dihitung. Bahagialah saat diuji, tandaya Tuhan rindu kita mendekatkan diri. Tuhan rindu akan curhatan hambaNya, bukan curhat di media sosial. Tuhan rindu akan sujud kita yang lama, bukan main gadget yang lama. Tuhan rindu akan tilawah kita, bukan baca chat di Whatsapp. Sertakan Allah setiap melangkah, insyaAllah jalannya akan dipermudah.
La Tahzan Innallaha Ma'ana (Jangan bersedih, Sesungguhnya Allah bersama kita) 😊






Selasa, 15 Oktober 2019

Resensi Buku Menikah Sama dengan Naik Level


Judul: Menikah Sama dengan Naik    Level
Penulis: Khairil Oktaviandi
Jumlah Halaman: 96
Penerbit: Alra Media

Sinopsis:
Menikah adalah kata yang menunjukkan kebahagiaan yang diimpikan oleh kedua insan yang sedang jatuh cinta. Ternyata tidak sesempit itu definisinya. Tulisan dalam buku ini membahas tentang kehidupan bersama kedua insan antara suami dan istri dari latar belakang yang berbeda. Sebenarnya menikah itu adalah pintu masuk untuk saling belajar menghadapi kehidupan berkeluarga. Setiap harinya dijumpai pelajaran baru yang mengharuskan untuk naik level. Maksudnya menaiki tangga satu menuju tangga berikutnya dan seterusnya bersama pasangan lainnya untuk menghadapi lika-liku kehidupan. 

Tulisan buku ini membahas mulai dari curhat pengarang tentang niat awal menikah sampai kehidupan sehari-harinya. Terdapat 18 catatan tentang topik kehidupan sehari-hari untuk pasangan yang sudah menikah sebagai berikut:

  1. Suami harus romantis
  2. Istrimu tidak sedang marah
  3. Audit handphone
  4. Memang semua wanita pencemburu
  5. Menjadi sahabat
  6. Aku selalu mendengarmu wahai cinta
  7. Kuat jalani ora kuat tinggal ngaji
  8. Menikmati masa sulit bersama
  9. Panggilan romantis Vs panggilan alay 
  10. Mengungkit masa lalu
  11. Gunakan kata maaf sebagai senjata
  12. Istri butuh pengakuan dan pernyataan
  13. Berumah tangga itu tentang kita
  14. Menikah=Naik level
  15. Nikmati rasanya, hargai usahanya
  16. Selisih harga yang sangat berharga
  17. Dilarang bermain media sosial jika tidak produktif
  18. 3 fase utama pernikahan.

Masing-masing bagian catatan dibahas berdasarkan pengalaman penulis dan juga survey sehari-hari. Membuat pembaca akan mengangguk setuju dengan peristiwa-peristiwa kecil yang sering terjadi dalam pernikahan. 

Kelebihan
1. Gaya penulis menggunakan bahasa yang santai, sehingga mudah dipahami oleh semua kalangan baik yang sudah menikah bahkan yang belum.
2. Terdapat quotes mulai dari catatan 1-18.
3. Membaca buku ini menarik pembaca untuk terus membaca catatan selanjutnya karena diksi yang digunakan menyentuh perasaan.
4. Ditulis berdasarkan pengalaman dan survey penulis, ada bagian penjelasan yang lucu sehingga tidak membosankan untuk dibaca.


Kekurangan
Isi dari tulisan ini secara keseluruhan sudah baik, namun urutan catatan tiap cerita tidak urut. Penulis tidak mengurut tentang catatan pertama yaitu menikah=naik level, lalu membahas 3 fase pernikahan. Malah langsung membahas kehidupan-kehidupan kecil dalam kehidupan berkeluarga. Jadi, pembaca langsung disajikan  dengan tulisan kehidupan nyata, padahal status pembaca ada juga yang belum menikah perlu penekanan di catatan pertama tentang menikah dan fase-fasenya. 

Kamis, 10 Oktober 2019

Aktivitas Pertanian Mendatangkan Pahala dan Dosa, Kenapa ?

Foto bersama tim riset pertanian

Salam sobat seluruh tanah air, semoga sehat dan bahagia selalu 😊

Saya masih sama seperti Pipit yang kalian kenal, senang bermain ke sawah. Bersahabat dengan tanaman dan sebagai pengamat masalah tanah, hama penyakit dan ekologi pertanian. Saya terlahir dari keluarga enterpreneur, pendidik dan petani, itu adalah sebuah anugerah luar biasa yang saya dapatkan. Maka nikmat Tuhan manakah yang bisa didustakan ?.

Waktu kecil terinspirasi dari mbah, om dan tante yang berprofesi sebagai guru. Muncullah jawaban ingin menjadi dosen saat ditanya cita-cita. Memasuki SMP-SMA mulai mencintai bahasa asing, jadi berubah ingin menjadi penerjemah dan kerja di Luar Negeri. Entah kenapa seperti ada panggilan jiwa dari diri sendiri untuk mempelajari ilmu pertanian. Jadi teringat lirik lagu "Entah Apa Yang Merasukimu" . Padahal pilihan saya sangat bertentangan dengan impian ibu ingin mempunyai anak dokter. Takdir Allah melalui petunjuk istikharah, akhirnya saya yakim memutuskan untuk kuliah jurusan Agroteknologi.  

Puji syukur saya tidak tersesat di Fakultas Pertanian seperti kebanyakan teman-teman kelas lain yang hanya menjadikan tempat pelarian karena ditolak jurusan lain. Aduh sakit ya kalau hanya dijadikan tempat pelarian karena putus dari mantan 🙊
Loh, skip jangan lanjut dibahas nanti ada yang baper 😁

Alasan utama saya belajar ilmu pertanian ingin memberikan sumbangsih pada negara agraris sebagai pejuang pangan. Kita semua tidak ingin kelaparan, makanya jangan meremehkan petani. Memang pakaian kerjanya tidak serapi pekerja kantoran, namun berani kotoran. Tidak memakai dasi, hanya topi sawah. Bekerja tidak mengendarai mobil, biasa mengendarai traktor saja. Peralatan kerja setianya adalah cangkul. AC di tempat kerjanya menggunakan kipas alami, yaitu desiran angin di sawah yang sepoi-sepoi. 

Saya sebagai umat muslim merasa bangga pada petani karena dalam Al-Qur'an juga sudah dijelaskan bahwa Allah menciptakan bumi ini penuh dengan kekayaan sumberdaya alam melimpah. Oleh karena itu diperintahkan untuk bercocok tanam. Ingat setiap tetesan keringat petani adalah pahala tiap butir bulir yang menjadi nasi makanan pokok kita sehari-hari. Lantas apa saja pahala di bidang pertanian  ? 
Yuk, baca satu persatu agar lebih menghargai profesi petani 😊

1. Sebagai pejuang pangan (bercocok tanam menghasilkan tanaman yang bisa dipetik buahnya, daunnya dan umbinya untuk dikonsumsi). 
2. Sebagai penyelamat bumi (jika tanah diolah dengan baik untuk pertanian, maka akan menjamin kelestariannya dalam jangka panjang sebagai warisan untuk anak cucu masa depan).
3. Ikut berperan menyumbang devisa negara. Setiap hasil komoditas yang dipanen, ada yang diekspor ke Luar Negeri. Disitulah ada peran petani di belakang layar yang melakukan proses menanam sampai panen.

Ketiga hal tersebut adalah jasanya yang InsyaAllah berpahala. Sobat millenial juga harus tau apa saja aktivitas yang menimbulkan dosa-dosa tanpa sengaja atau tidak telah dilakukan di bidang pertanian. Berikut hasil survey yang ditemukan di lapangan:
1. Menggunakan bahan kimia dalam pertanian yang dapat menimbulkan penyakit bahkan kematian. Sudah ada kasus di lapang yaitu petani yang menyemprot pestisida di sawah, lalu gas yang disemprotkan terhirup olehnya menyebabkan sesak nafas atau bahkan kematian.
Solusi: menggunakan biopestisida yang lebih ramah lingkungan.
2. Membunuh musuh alami (binatang kecil) yang memang tersedia untuk keseimbangan alam melalui pestisida. Padahal mereka sebenarnya dibiarkan saja akan lebih baik. Itu salah satu prinsip pertanian organik yaitu menyelamatkan musuh alami.
3. Menyumbang gas rumah kaca 15% yang banyak disebabkan dari pemakaian pupuk kimia, residu hasil panen, dan pupuk kotoran sapi yang mengandung metana. Oleh sebab itu, solusinya adalah menggunakan pupuk organik yang sudah dikomposkan.
4. Sewa lahan pertanian yang sudah menjadi kaprah, padahal ini dilarang dalam agama Islam. Alasannya adalah terjadi ketidak adilan. Bagi pemilik lahan hanya menyewakan saja kepada petani yang butuh, lalu lahannya dikelola menjadi lahan pertanian dan nanti bagi hasil. Seharusnya pemilik lahan sendiri mengelola lahannya. Sewa lahan terlihat jelas bahwa petani merasa dirugikan karena keuntungan sedikit daripada pemilik lahan. Padahal tenaga yang dikeluarkan lebih banyak petaninya.
Solusi: Pemilik lahan yang luas , sebaiknya memberikan langsung lahannya secara percuma kepada petani untuk digarap tanpa meminta bagi hasil.
5. Kredit pertanian yang saat ini sangat diminati petani untuk meminjam uang ke BANK. Hal ini seharusnya dihindari karena pasti ada sistem riba.
Solusi: menggunakan koperasi syariah di kelompok pertanian.
6. Menimbulkan bencana alam seperti longsor, kebakaran hutan dan lahan. Bencana tersebut akan terjadi pada teknis budidaya yang salah. Misalnya bercocok tanam tanam di lereng yang tidak dibuatkan terasering. Begitu juga pada kebakaran hutan dan lahan yang menjadi masalah tiada henti. Pembukaan Hutan Tanaman Industri di lahan gambut bisa menjadi penyebab kebakaran saat air muka tanah menurun dan mengalami kekeringan.
Solusi: Melakukan evaluasi lahan sebelum penanaman atau melakukan konservasi untuk mengurangi bencana.

Sudah ya, nanti saya dikira kontra pertanian padahal sarjana pertanian 😁
Saya menilai dari sudut pandang sebagai pengamat pertanian selama ini, bahwa masih banyak yang diaplikasikan di lapang tidak sesuai dengan ilmu pertanian yang semestinya. Jadi, saya hanya berharap sistem pertanian Indonesia lebih baik jika kita memang ingin mewujudkan visi sebagai lumbung pangan Indonesia 2045.

Wahai pemuda Indonesia !!!
Kita hidup di negara agraris bukan di negara teroris. Jangan mati kelaparan di negara sendiri, ayo beraksi jadi petani berdasi 😊

Yogyakarta, 10 Oktober 2019

Kamis, 03 Oktober 2019

Kisah Calon Menteri Pertanian Muda Indonesia

Foto : Petani jagung wisuda

"Tiap kejadian ada alasan".
"Begitu tiap pertemuan ada perkenalan".
"Kita dipertemukan dengan alasan yang sama".
"Belajar bersama untuk menggapai asa".
"Tidak menutup kemungkinan alasan kita tidak sehati, tidak masalah  seiring waktu juga akan sehati". 

Hai kalian yang jauh di mata namun dekat di hati, mungkin ada yang pernah berjumpa dengan saya di dunia nyata atau mimpi. Jangan pernah bosan berkawan dengan saya, kalian sudah tersimpan dalam memori sketsa kehidupan saya sebagai perantau sejati. Teruntuk kalian yang baru diberi kesempatan berjumpa di dunia maya, jangan khawatir kalian akan berkenalan dengan sosok wanita secerewet kicauan burung pipit.

Yuk kenalan biar makin cinta, eh sayang maksudnya seperti pepatah "Tak Kenal Maka Tak Sayang". 
Check this out 😊
👇
Suara adzan maghrib di Pulau ujung Timur Madura pada 22 tahun lalu pada bulan dan tanggal yang sama dengan Bapak Proklamator Indonesia (Alm. Ir. Soekarno) yakni 6 Juni 1997, menjadi sejarah lahirnya seorang bayi perempuan ke dunia yang fanah ini. Saya sebagai makhluk-NYA tidak bisa memilih akan dilahirkan dari rahim siapa dan di tempat mana. Percaya bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik sejak kita dilahirkan sebagai khalifah di muka bumi ini. Tidak perlu iri hati, bersyukurlah dengan apa yang dimiliki saat ini.

Lalu orang tua memberikan nama yang indah "Lailatul Qomariyah". Berharap menjadi penerang dalam kegelapan seperti bulan di malam hari. Semakin hari tumbuh menjadi anak perempuan mungil, namun belum bisa berbicara hingga umur hampir 3 tahun.  Berkomunikasi dengan orang tua melalui bahasa isyarat. Kenapa nama sekarang berbeda dengan nama kecil ?. Beginilah cerita dari ibu, waktu keluarga besar ziarah ke Makam Sunan Ampel disitulah Kakek saya tidur setelah mengaji dan bermimpi kedatangan seorang kakek berjubah putih yang memberi nama pengganti "Fitriya Kulsum" hingga saat ini. Nama adalah doa, berharap sebaik putri Rasulullah "Ummi Kultsum".

Qadarullah, saya punya sejarah mengeluarkan bunyi dari pita suara pertama kali yaitu di samudera saat menyebrang pulang menuju Pulau Sapudi. Memang benar semua makhluk-NYA akan menjalankan fasenya sesuai takdir-NYA. Mungkin saya terlambat dari segi perkembangan audionya, namun siapa sangka sekarang saya tumbuh menjadi gadis yang hobi bicara, story telling apalagi curhat.

Kini saya sudah sampai di fase umur kepala 2 angka kembar (22), layaknya remaja lainnya yang suka baper dalam hal percintaan. Astaghfirullah, seharusnya pemuda itu berperan dalam peradaban. Kalian yang kenal saya pasti tau saat saya jatuh bangun membina cinta, namun semangat saya tidak pernah pudar mewujudkan cita-cita. Biarkan cinta mundur, asal cita-cita tidak terkubur. Lantas apa peran saya sebagai pemuda peradaban ?. Saya memilih jalan untuk menimba ilmu setinggi-tingginya karena diri ini haus atau fakir ilmu. Saya perantau sejati sejak SMA hingga kuliah. Langkah kakiku mengantarkan ke Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melanjutkan perjalanan menggapai asa.

Orang di luar sana memandang rendah jurusanku, padahal mereka butuh pangan. Mereka tidak boleh melupakan jasa sarjana pertanian. Jurusan saya memang tidak seperti kedokteran, namun percayalah profesi kami juga sebagai dokter tapi dokter tanaman. Meski dipandang sebelah mata, tetap tidak mengubah tekadku sebagai pejuang pangan. Kini saya melanjutkan lagi pendidikan sebagai "Soil Scientist". Ingat saya ingin menjadi ilmuan tanah Indonesia bukan tukang gali kubur. Lirik lagu "Tanah Kita Tanah Surga" menjadi motivasi memilih master ilmu tanah. Bisa ditebak aktivitas saya sehari-hari sebagai mahasiswa pascasarjana yang belajar tanah mulai dari proses terbentuknya hingga manfaatnya dalam dunia pertanian secara ilmiah.

Negara Arab boleh bangga mempunya menteri kepemudaan yang masih berumur 22, begitu juga Malaysia yang mempunya menteri muda berumur 25 tahun. Lantas kenapa Indonesia tidak bisa ?. Fitriya Kulsum siap menjadi menteri pertanian di usia muda sebelum berumur 40 tahun. Menteri Pertanian memiliki visi yakni "Menjadikan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045". Saya ingin mengambil posisi sebagai stake holder agar bisa berperan dan berkontribusi untuk pangan Indonesia dan dunia. Saya sadar sebagai mahasiswa yang kadang sok idealisme, sering mengkritik program kerja pemerintah. Jika saya tidak merasakan posisi mereka, maka saya hanya bisa mengkritik tanpa beraksi nyata. Saya akan terus menggibah pemerintah tanpa melakukan suatu perubahan. Ingat bahwa negara tidak butuh pemuda yang berhasil mengkritisi namun gagal dalam beraksi. 

Selama menjadi mahasiswa saya juga pernah turun ke jalan memperjuangkan kebenaran, jadi tidak hanya sekedar kuliah karena saya sadar kuliah menggunakan beasiswa. Jadi ada uang rakyat sebagai amanah yang mengalir dalam jiwa saya untuk menjadi agen perubahan dan pejuang peradaban. Ada kegiatan di luar kuliah yang saya ikuti baik UKM, komunitas sosial, dan mengikuti acara "Himpunan Mahasiswa Pascasarjana" saat ini. Masih juga disibukkan dengan komunitas blog pendidikan online dan wirausaha kecil-kecilan.

Saya sebagai mahasiswa yang selalu ingin menuangkan aspirasinya melalui karya tulisan, ada beberapa lomba sepersi essay, Karya Tulis Ilmiah, proposal business plaa atau membuat teks pidato yang pernah saya juarai. Alasannya hanya ingin menginspirasi melalui cara saya sendiri. Itulah alasannya saya bergabung dengan "Kelas Menulis Oktober". Saya ingin berkumpul dengan orang yang satu visi agar tercipta karya yang menginspirasi.

Harapan saya ketika mengikuti "KMO (Kelas Menulis Oktober)", selalu istiqomah menulis tiap hari dan menghasilkan karya buku kedua saya bersama keluarga KMO yang lainnya. Buku antolologi pertama saya dengan komunitas Shalaazz adalah berjudul "Lensa Pendidikan Abad 21". Jadi tidak sabar ingin berkolaborasi menghasilkan karya baru bersama keluarga KMO.

Biar jadi motivasi kita semua untuk terus menulis, ingatlah nasehat penulis inspiratif Pramoedya Ananta Toer "Orang boleh pandai setinggi langit, namun selama dia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Cukup sekian ya perkenalan singkat dari Gadis Sanguinis yang Ekstrovert, untuk kenal lebih lanjut bisa follow IG @fitriya_kulsum 😊

Yogyakarta, 4 Oktober 2019








Minggu, 29 September 2019

Misteri Cinta dan Cita-Cita

Sebuah perjalanan unik yang mengantarkan pada teka-teki kehidupan. Terikat sebuah perjanjian 4 tahun lalu antara Putri dan Putra. Mereka pernah tinggal di satu atap yang sama saat di bangku SMA , hingga akhirnya Putra memutuskan untuk menjatuhkan hati pada Putri. Tekad bulat seorang pria mengutarakan niat baiknya pada ibunya si wanita. Betapa ikhlasnya seorang ibu mengizinkan gadis sulungnya dilamar oleh seorang pria baik. Pertunangan pun terjadi, hingga akhirnya perpisahan harus dilalui. 

LDR (Long Distance Relationship) memang tidak semuanya menghendaki, termasuk dua insan yang sedang berbahagia ini. Mereka sama-sama sedang berjuang dengan jalannya masing-masing. Putri harus menempuh pendidikannya di Jawa Tengah, sedangkan Putra memiliki pekerjaan di Jawa Timur. Padahal keluarga Putra menginginkan mereka untuk menikah segera agar bisa tinggal bersama dalam ikatan halal. Namun, keluarga Putri tidak merestuinya karena alasan putrinya adalah penerima beasiswa yang dilarang menikah. Ternyata penghasilan Putra tidak bisa meyakinkan ibu mertuanya untuk menikahi putrinya. 

Detik demi detik berganti menjadi menit, jam, hari lalu bulan dan tahun. Mereka hanya bertemu saat Putri pulang kampung pada liburan semester. Terjadilah perjanjian antara kedua pihak keluarga Putri dan Putra untuk menentukan waktu pernikahan mereka. Sesuai kesepakatan musyawarah, rencana waktu pernikahan akan diselenggarakan setelah Putri wisuda S1. 

Begitu berkobar semangat Putri untuk menyelesaikan studinya. Ditambah lagi dengan semangat dari calon imamnya. Ternyata Tuhan punya rencana lain, penelitiannya Putri terhambat oleh bahan yang dibutuhkan. Dia hampir putus asa karena merasa tidak bisa menepati janjinya pada Putra untuk lulus tepat waktu. Benar nyatanya ikhtiar tidak akan mengkhianati hasil, Putri sangat bersyukur bisa lulus di tahun 2018. 

Impian semakin di depan mata, rasa bahagia itu tidak bisa didefinisikan karena akan berubah status dari tunangan menjadi pasutri. Tepat pada akhir 2018, Putri diwisuda. Tunangannya sangat menunggu moment itu karena semakin mendekati hari H pernikahan. Siapa sangka yang ternyata terjadi ?. Manusia hanya bisa berencana, namun keputusan tetap kuasa Maha Pembuat Skenario.

Tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan ternama di Indonesia pernah ditolak Putri karena tidak mendapat restu dari ibunya akibat lokasi penempatan kerja di ujung timur Indonesia. Saat itu kondisinya masih rawan kerusuhan, membuat ibunya semakin yakin tidak mengizinkan putrinya. Akhirnya Putri ikhlas ingin bekerja di daerah Jawa saja setelah lulus S1. Ternyata ibunya tetap melarang, agar fokus melanjutkan studi dulu. Tunangan pun mendesak untuk segera menikah karena sesuai kesepakatan awal.

Putri mempersiapkan pendaftaran pascasarjananya. Dia memilih untuk melanjutkan studi di Kota Istimewa Yogyakarta. Saat persiapannya ada kejutan di Bulan April bertepatan dengan Hari Kartini terjadi sebuah perbincangan tidak terduga.

Putra: "Sepertinya kau berubah, bahkan sudag jarang komunikasi antar kita yang tidak seperti dulu lagi".
Putri: "Aku rasa ini tidak perlu dipermasalahkan karena aku sedang fokus dan berjuang disini".
Putra: "Kalau sampai kamu terbukti dengan laki-laki lain. Maaf, aku pilih mundur dari pertunangan  ini".
Putri: "Silahkan, itu hakmu". Aku juga udah capek dengan tuduhanmu selama ini".

Beberapa jam kemudian Putri mendapat telvon dari ibunya yang lagi di Jakarta.
Ibu Putri: "Nak, kamu sudah diputuskan pertunangannya dengan Putra. Tadi kakak iparmu yang nelvon Ibu".
Putri: "Yasudah Bu, mungkin ini sudah jalannnya dan rencana Allah pasti indah.

Putri lagi diuji mendapat kabar buruk menurutnya yang tidak dia ketahui maksud rencana dari Allah. Sebenarnya pertanda itu sudah ada, seminggu sebelum diputuskan pertunangannya dengan Putra. Cincin pertunangannya hilang saat mengisi training pertanian pada organisasi yang pernah diikuti waktu SMA dulu. Saat dia buat status di WA tentang cincinnya yang hilang, tiba-tiba ada seorang teman organisasinya dulu yang merespon. Dia bernama Dika.

Dika: "Cincin tunangan dik ?" ?.
Putri: "Iya mas".
Dika: "Loh beneran kamu tunangan" ?.
Putri: "Sudah lama mas, sejak kuliah S1".
Dika: "Loh, mas gak menyangka kamu sudah tunangan".
Setelah keduanya chat panjang, terjadilah curhat dan Dika menyampaikan perasaan yang sebenarnya pada Putri. Ternyata Dika sudah menyimpan rasa sejak 2013 lalu, saat pertama kali bertemu di satu organisasi. Sejak saat itu sampai 2019 mereka tidak bertemu lagi. Putri kaget karena tidak menyangka saja. Ternyata beberapa hari kemudian Putri mendapat kabar diputuskan dari pihak tunangannya. Saat itu juga Putri cerita sama Dika.

Putri tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan gagal menikah. Dia tidak ingin fokusnya terpecah karena harus menyiapkan test untuk persyaratan pascasarjana agar diterima di universitas pilihannya. Setelah melakukan taaruf yang sangat singkat, mulai dari tukaran CV dan minta pertimbangan orang tua akhirnya dia menerima Dika dalam kehidupan barunya. Sebulan menjalani taaruf, lalu hari kelima lebaran Putri menyuruh Dika untuk silaturrahmi pada orang tuanya. Dika pun menyetujui dan menyampaikan niat baiknya pada orang tua Putri.

Dika:"Maaf Pak, Bu. Maksud kedatangan saya kesini untuk meminang Putri".
Bapak Putri: "Saya serahkan sama Putri".
Ibu Putri: "Saya mengizinkan, tetapi Putri ini masih ingin melanjutkan studi. Apakah Nak Dika tidak keberatan" ?.
Dika: "Insyaallah tidak bermasalah, Bu".
Putri hanya tersenyum malu sekaligus bahagia, ada sosok laki-laki yang berani mengkhitbah langsung pada orang tuanya. Dika membuktikan keseriusannya. Akhirnya beberapa hari kemudian terjadilah perbincangan antara Ibu Putri dan Ibu Dika lewat HP.

Ibu Dika: "Assalamualaikum...apakah betul ini dengan Ibunya Putri" ?.
Ibu Putri: "Iya, betul. Saya sendiri".
Ibu Dika: "Saya Ibunya Dika. Bagaimana ya jeng anak saya kemarin waktu silaturrahmi ke rumah sampean ?". Saya takut ada salah kata dari Dika.
Ibu Putri: "Saya salut dengan Nak Dika, jeng. Dia berani dan anaknya sopan".
Ibu Dika: "Alhamdulillah, terima kasih ya jeng sudah bersedia menerima anak saya".
Ibu Putri: "Sama-sama jeng, semoga ada jodoh antara anak kita".

Singkat cerita akhirnya mereka menentukan tanggal silaturrahmi keluarga besar Dika ke rumah Putri. Ditetapkan pertengahan Agustus, namun Putri harus berangkat ke Yogyakarta untuk mengurus registrasi ulang mulai awal agustus dan perkuliahan aktif pertengahan bulan. Putri juga diantar ibunya dan Dika ke Yogyakarta, bahkan Dika yang mencarikan kost yang merima pasutri karena rencana tahun 2019 menikah.

Manusia hanya perencana tapi bukan penentu hasil akhir, tetap Allah yang memutuskan. Tepat Hari Raya Qurban terjadi kejutan yang tidak terduga kembali. Putri menerima kabar dari Dika melalui WA.

Dika: "Maaf, keluarga besar saya dari om tidak mengizinkan pernikahan tahun ini. Disuruh menunda pernikahan sampai kamu menyelesaikan studi. Mereka menyarankan jangan buru-buru karena menikah tidak sebercanda itu. Sampai jumpa di lain waktu".
Putri: "Sudah kuduga pasti akan begini karena pendidikan juga menjadi penghalang pernikahanku kemarin dengan mantan tunangan. Baiklah saya menerima keputusannya, terima kasih informasinya". (mencoba tegar padahal itu berita terburuk yang Putri dapat selama hidup). Dia harus merasakan pengorbanan perasaan juga di Hari Raya Qurban, mencoba untuk ikhlas meski sulit. Semua keluarga besar Putri kecewa, namun apa daya tidak bisa menentang takdir.

Hari demi hari dilalui dengan gejolak yang tidak menentu. Kadang ingin berhenti berharap, namun Putri tau bahwa Dika tidak salah. Hanya saja takdir belum berpihak padanya, namun ingin berkomitmen untuk menunggu dalam penantian. Memang tidak masuk akal alasan ditundanya pernikahan. Kecewa yang belum sembuh akibat gagal menikah dengan mantan tunangan, malah ditambah gagal menikah yang kedua kali di tahun ini. Mantan tunangannya sering mengajak balikan dan ingin mengkhitbah lagi pada orang tuanya Putri. Tidak gampang untuk menerima kembali, selalu ditolak secara halus karena Putri masih yakin ada harapan tetap bersatu dengan Dika. Sudah banyak pengorbanan yang Dika lakukan, sampai dia rela resign dari tempat kerjanya di Surabaya untuk mempersiapkan pernikahannya dan rencana pindah ke Yogyakarta tahun ini. Semua hanya tinggal rencana saja.

Putri bersyukur dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya yang selalu mendukung untuk bangkit dari kegagalan. Dia memang tidak membuka hati untuk laki-laki lain, namun dia bersyukur atas rencana terbaik yang Allah berikan. Terdapat banyak hikmah yang didapatkan yaitu harus banyak belajar tentang pernikahan, mungkin memang Putri belum dipercaya oleh Allah menjadi seorang istri untuk saat ini. Ada kewajiban lain yang harus difokuskan yaitu belajar untuk meraih M.Sc. Sebenarnya pendidikan wanita bukan untuk menyaingi status suami nantinya. Seorang wanita harus tetaplaj berpendidikan tinggi karena sebagai pencetak atau sekolah pertama bagi generasi bangsa. Saat dihadapkan pilihan antara pendidikan dan pernikahan bagi seorang wanita adalah utamakan kewajiban. Belajar itu adalah kewajiban, jika merasa siap bisa dilakukan bersama dengan pernikahan.

Ada misteri di balik perjalanan pendidikan dan cinta Putri. Dia harus memperjuangkan cita-cita dan cintanya. Mungkin tidak bisa bersamaan, namun ada saatnya dia mendapat cintanya di waktu yang terbaik. Saat ini Dika dan Putri sama-sama berjuang menempuh pendikan di kota yang berbeda. Dika kuliah S1 lagi karena dari dulu selalu pindah kampus, sehingga belum lulus S1 sampai saat ini. Sedangkan Putri menempuh pendidikan S2. Mereka tidak mempermasalahkan status pendidikan, meski lebih tinggi Putri namun status dalam keluarga nantinya jika berjodoh tetaplah Dika yang menjadi pemimpin keluarga. Apakah mereka berjodoh ??? Lihat saja beberapa tahun yang akan datang, bisa cepat atau lebih lama. Bersabar menunggu harapan takdir berpihak pada mereka yang dilakukan oleh Putri  dan Dika.

"Lebih Baik Gagal Bercinta Daripada Bercita-cita".

Politik Kampanye Hitam Pada Sawit di Indonesia

Sebulan lalu negara kita baru merayakan dirgahayu kemerdekaan, tepat pada 17 Agustus. Sebenarnya Indonesia sudah merdeka seutuhnya belum ?. Jika kata merdeka identik dengan kesejahteraan, maka sebenarnya kita belum merdeka. Masih banyak permasalahan di negeri ini yang belum terselesaikan, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya bahkan politik. Hal yang paling dominan adalah politik karena merupakan pemicu dari semua permasalahan yang terjadi. 

Politik menurut KBBI adalah segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lainnya. Ada definisi dari sudut pandang yang berbeda yaitu berdasarkan teori klasik Aristoteles bahwa politik adalah usaha warga negara untuk mencapai tujuan bersama. Mungkin selama ini, banyak yang menilai politik itu berkonotasi negatif. Padahal seharusnya bermakna positif, tidak boleh hanya menguntungkan satu pihak saja dan merugikan yang lainnya.

Kehidupan ini tidak akan lepas dari politik, terutama pada pelaku usaha, salah satunya adalah HTI (Hutan Tanaman Industri). Apa yang terlintas dalam pikiram saat mendengar HTI ? Pasti adalah tanaman kelapa sawit yang saat ini menjadi tanaman primadona sebagai tanaman industri. Bahkan juga disebut sebagai "Golden Crop" (tanaman emas). Begitu berharganya tanaman tersebut seperti emas yang bernilai jual tinggi. 

Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman industri sebagai penyumbang devisa negara terbanyak diantara sektor yang lain. Indonesia memiliki luas lahan tanaman tersebut sebanyak 14,6 juta ha. Sebenarnya tanaman ini bukan berasal dari Indonesia, namun dari Afrika. Akan tetapi faktor curah hujan dan penyinaran matahari yang cukup, membuat tanaman ini tumbuh baik di Indonesia. 

Minyak kelapa sawit yang dihasilkan selalu dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai minyak nabati untuk menggoreng, atau komposisi dalam makanan dan produk lainnya. Jadi, tidak heran jika tanaman ini sangat berpotensi untuk dikembangkan. Produksi potensial CPO bisa mencapai 7-8 ton/ha/tahun, namun potensi aktualnya hanya 3-3,5 ton/ha/tahun. Hal ini disebabkan gap produksi baik dari bahan tanam, tanah, iklim, pemeliharaan dan panen. Oleh sebab itu, terdapat Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk terus meningkatkan produksi sesuai potensialnya. 

Negara yang mengekspor CPO (Coconut Palm Oil) adalah Indonesia dan Malaysia. Negara  tujuan ekspor terbanyak adalah India, sangat sedikit untuk tujuan Negara Eropa kecuali Belanda. Itupun hanya sedikit, karena susah untuk mengekspor CPO ke Negara Eropa daripada Asia. Sebenarnya apa penyebabnya ?. 

Tanaman sawit di Indonesia banyak mendapat Black Campaign (Kampanye Hitam) yang membuat mindset negatif terhadap tanaman tersebut. Pelakunya dari negara lain bahkan dari negara sendiri. Memang aneh saat Indonesia menjatuhkan  Berikut beberapa kampanye hitam yang dilakukan oleh pihak yang kontra terhadap industri tanaman kelapa sawit. 
1. Minyak nabati yang dihasilkan kelapa sawit dianggap tidak menyehatkan karena mengandung jenuk lemak tinggi yang menyebabkan kolestrol. Padahal yang tidak menyehatkan itu yang berlebihan, jika dikonsumsi secara wajar maka tidak akan menimbulkan penyakit.
2. Merusak hutan
Pembukaan lahan hutan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit saat ini menjadi permasalahan. Akibatnya terjadi tebang pohon di hutan yang seharusnya memproduksi kayu yang mempunyai nilai jual tinggi juga. Hutan sebagai penyimpan karbon menjadi berkurang karena pohon mulai berkurang. 
Hal ini memang harus dikaji ulang oleh pelaku usaha HTI dan pemerintah yang memberikan izin pembukaan kebun di hutan. 
3. Menyebabkan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)
Baru-baru ini telah terjadi karhutla di Riau yang berdampak pada provinsi lain seperti Kalimantan, bahkan asapnya sampai ke negara tetangga yaitu Malaysia. Pembukaan lahan kelapa sawit terutama di lahan gambut menjadi permasalahan utama yang dituding sebagai pemicu kebakaran. 
4. Mencemari Lingkungan
Limbah dari CPO yang terbuang ke aliran permukaan air dapat mencemari lingkungan. Padahal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit sudah meneliti pemanfaatan limbah tersebut agar lebih ramah lingkungan. 

Begitulah beberapa hal yang dikampanyekan pada HTI (Hutan Tanaman Industri) kelapa sawit. Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit menyampaikan bahwa pihak yang mengkampanyekan negatif pada kelapa sawit adalah ciri iri tanda tidak mampu. Faktanya sebagai penyumbang devisa negara yang terbanyak diantara sektor lain, sedangkan Negara Eropa tidak mampu memproduksi kelapa sawit. Politik kampanye hitam ini sedang dimanfaatkan oleh pelaku usaha lainnya untuk menurunkan ekstensi kelapa sawit di Indonesia agar bisa digantikan oleh sektor lain. Mulai saat ini mari kita kampanyekan positif tentang kelapa sawit dengan tetap memperhatikan permasalahan dan solusinya pada lingkungan. 

Dikutip dari quotes Presiden Jokowi "Menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia maka artinya kita juga harus terdepan pula dalam pengelolaan". Semoga artikel ini mengubah mindest negatif menjadi positif pada kelapa sawit.