Kamis, 03 Oktober 2019

Kisah Calon Menteri Pertanian Muda Indonesia

Foto : Petani jagung wisuda

"Tiap kejadian ada alasan".
"Begitu tiap pertemuan ada perkenalan".
"Kita dipertemukan dengan alasan yang sama".
"Belajar bersama untuk menggapai asa".
"Tidak menutup kemungkinan alasan kita tidak sehati, tidak masalah  seiring waktu juga akan sehati". 

Hai kalian yang jauh di mata namun dekat di hati, mungkin ada yang pernah berjumpa dengan saya di dunia nyata atau mimpi. Jangan pernah bosan berkawan dengan saya, kalian sudah tersimpan dalam memori sketsa kehidupan saya sebagai perantau sejati. Teruntuk kalian yang baru diberi kesempatan berjumpa di dunia maya, jangan khawatir kalian akan berkenalan dengan sosok wanita secerewet kicauan burung pipit.

Yuk kenalan biar makin cinta, eh sayang maksudnya seperti pepatah "Tak Kenal Maka Tak Sayang". 
Check this out 😊
👇
Suara adzan maghrib di Pulau ujung Timur Madura pada 22 tahun lalu pada bulan dan tanggal yang sama dengan Bapak Proklamator Indonesia (Alm. Ir. Soekarno) yakni 6 Juni 1997, menjadi sejarah lahirnya seorang bayi perempuan ke dunia yang fanah ini. Saya sebagai makhluk-NYA tidak bisa memilih akan dilahirkan dari rahim siapa dan di tempat mana. Percaya bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik sejak kita dilahirkan sebagai khalifah di muka bumi ini. Tidak perlu iri hati, bersyukurlah dengan apa yang dimiliki saat ini.

Lalu orang tua memberikan nama yang indah "Lailatul Qomariyah". Berharap menjadi penerang dalam kegelapan seperti bulan di malam hari. Semakin hari tumbuh menjadi anak perempuan mungil, namun belum bisa berbicara hingga umur hampir 3 tahun.  Berkomunikasi dengan orang tua melalui bahasa isyarat. Kenapa nama sekarang berbeda dengan nama kecil ?. Beginilah cerita dari ibu, waktu keluarga besar ziarah ke Makam Sunan Ampel disitulah Kakek saya tidur setelah mengaji dan bermimpi kedatangan seorang kakek berjubah putih yang memberi nama pengganti "Fitriya Kulsum" hingga saat ini. Nama adalah doa, berharap sebaik putri Rasulullah "Ummi Kultsum".

Qadarullah, saya punya sejarah mengeluarkan bunyi dari pita suara pertama kali yaitu di samudera saat menyebrang pulang menuju Pulau Sapudi. Memang benar semua makhluk-NYA akan menjalankan fasenya sesuai takdir-NYA. Mungkin saya terlambat dari segi perkembangan audionya, namun siapa sangka sekarang saya tumbuh menjadi gadis yang hobi bicara, story telling apalagi curhat.

Kini saya sudah sampai di fase umur kepala 2 angka kembar (22), layaknya remaja lainnya yang suka baper dalam hal percintaan. Astaghfirullah, seharusnya pemuda itu berperan dalam peradaban. Kalian yang kenal saya pasti tau saat saya jatuh bangun membina cinta, namun semangat saya tidak pernah pudar mewujudkan cita-cita. Biarkan cinta mundur, asal cita-cita tidak terkubur. Lantas apa peran saya sebagai pemuda peradaban ?. Saya memilih jalan untuk menimba ilmu setinggi-tingginya karena diri ini haus atau fakir ilmu. Saya perantau sejati sejak SMA hingga kuliah. Langkah kakiku mengantarkan ke Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melanjutkan perjalanan menggapai asa.

Orang di luar sana memandang rendah jurusanku, padahal mereka butuh pangan. Mereka tidak boleh melupakan jasa sarjana pertanian. Jurusan saya memang tidak seperti kedokteran, namun percayalah profesi kami juga sebagai dokter tapi dokter tanaman. Meski dipandang sebelah mata, tetap tidak mengubah tekadku sebagai pejuang pangan. Kini saya melanjutkan lagi pendidikan sebagai "Soil Scientist". Ingat saya ingin menjadi ilmuan tanah Indonesia bukan tukang gali kubur. Lirik lagu "Tanah Kita Tanah Surga" menjadi motivasi memilih master ilmu tanah. Bisa ditebak aktivitas saya sehari-hari sebagai mahasiswa pascasarjana yang belajar tanah mulai dari proses terbentuknya hingga manfaatnya dalam dunia pertanian secara ilmiah.

Negara Arab boleh bangga mempunya menteri kepemudaan yang masih berumur 22, begitu juga Malaysia yang mempunya menteri muda berumur 25 tahun. Lantas kenapa Indonesia tidak bisa ?. Fitriya Kulsum siap menjadi menteri pertanian di usia muda sebelum berumur 40 tahun. Menteri Pertanian memiliki visi yakni "Menjadikan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045". Saya ingin mengambil posisi sebagai stake holder agar bisa berperan dan berkontribusi untuk pangan Indonesia dan dunia. Saya sadar sebagai mahasiswa yang kadang sok idealisme, sering mengkritik program kerja pemerintah. Jika saya tidak merasakan posisi mereka, maka saya hanya bisa mengkritik tanpa beraksi nyata. Saya akan terus menggibah pemerintah tanpa melakukan suatu perubahan. Ingat bahwa negara tidak butuh pemuda yang berhasil mengkritisi namun gagal dalam beraksi. 

Selama menjadi mahasiswa saya juga pernah turun ke jalan memperjuangkan kebenaran, jadi tidak hanya sekedar kuliah karena saya sadar kuliah menggunakan beasiswa. Jadi ada uang rakyat sebagai amanah yang mengalir dalam jiwa saya untuk menjadi agen perubahan dan pejuang peradaban. Ada kegiatan di luar kuliah yang saya ikuti baik UKM, komunitas sosial, dan mengikuti acara "Himpunan Mahasiswa Pascasarjana" saat ini. Masih juga disibukkan dengan komunitas blog pendidikan online dan wirausaha kecil-kecilan.

Saya sebagai mahasiswa yang selalu ingin menuangkan aspirasinya melalui karya tulisan, ada beberapa lomba sepersi essay, Karya Tulis Ilmiah, proposal business plaa atau membuat teks pidato yang pernah saya juarai. Alasannya hanya ingin menginspirasi melalui cara saya sendiri. Itulah alasannya saya bergabung dengan "Kelas Menulis Oktober". Saya ingin berkumpul dengan orang yang satu visi agar tercipta karya yang menginspirasi.

Harapan saya ketika mengikuti "KMO (Kelas Menulis Oktober)", selalu istiqomah menulis tiap hari dan menghasilkan karya buku kedua saya bersama keluarga KMO yang lainnya. Buku antolologi pertama saya dengan komunitas Shalaazz adalah berjudul "Lensa Pendidikan Abad 21". Jadi tidak sabar ingin berkolaborasi menghasilkan karya baru bersama keluarga KMO.

Biar jadi motivasi kita semua untuk terus menulis, ingatlah nasehat penulis inspiratif Pramoedya Ananta Toer "Orang boleh pandai setinggi langit, namun selama dia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Cukup sekian ya perkenalan singkat dari Gadis Sanguinis yang Ekstrovert, untuk kenal lebih lanjut bisa follow IG @fitriya_kulsum 😊

Yogyakarta, 4 Oktober 2019








Tidak ada komentar:

Posting Komentar