Sebuah perjalanan unik yang mengantarkan pada teka-teki kehidupan. Terikat sebuah perjanjian 4 tahun lalu antara Putri dan Putra. Mereka pernah tinggal di satu atap yang sama saat di bangku SMA , hingga akhirnya Putra memutuskan untuk menjatuhkan hati pada Putri. Tekad bulat seorang pria mengutarakan niat baiknya pada ibunya si wanita. Betapa ikhlasnya seorang ibu mengizinkan gadis sulungnya dilamar oleh seorang pria baik. Pertunangan pun terjadi, hingga akhirnya perpisahan harus dilalui.
LDR (Long Distance Relationship) memang tidak semuanya menghendaki, termasuk dua insan yang sedang berbahagia ini. Mereka sama-sama sedang berjuang dengan jalannya masing-masing. Putri harus menempuh pendidikannya di Jawa Tengah, sedangkan Putra memiliki pekerjaan di Jawa Timur. Padahal keluarga Putra menginginkan mereka untuk menikah segera agar bisa tinggal bersama dalam ikatan halal. Namun, keluarga Putri tidak merestuinya karena alasan putrinya adalah penerima beasiswa yang dilarang menikah. Ternyata penghasilan Putra tidak bisa meyakinkan ibu mertuanya untuk menikahi putrinya.
Detik demi detik berganti menjadi menit, jam, hari lalu bulan dan tahun. Mereka hanya bertemu saat Putri pulang kampung pada liburan semester. Terjadilah perjanjian antara kedua pihak keluarga Putri dan Putra untuk menentukan waktu pernikahan mereka. Sesuai kesepakatan musyawarah, rencana waktu pernikahan akan diselenggarakan setelah Putri wisuda S1.
Begitu berkobar semangat Putri untuk menyelesaikan studinya. Ditambah lagi dengan semangat dari calon imamnya. Ternyata Tuhan punya rencana lain, penelitiannya Putri terhambat oleh bahan yang dibutuhkan. Dia hampir putus asa karena merasa tidak bisa menepati janjinya pada Putra untuk lulus tepat waktu. Benar nyatanya ikhtiar tidak akan mengkhianati hasil, Putri sangat bersyukur bisa lulus di tahun 2018.
Impian semakin di depan mata, rasa bahagia itu tidak bisa didefinisikan karena akan berubah status dari tunangan menjadi pasutri. Tepat pada akhir 2018, Putri diwisuda. Tunangannya sangat menunggu moment itu karena semakin mendekati hari H pernikahan. Siapa sangka yang ternyata terjadi ?. Manusia hanya bisa berencana, namun keputusan tetap kuasa Maha Pembuat Skenario.
Tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan ternama di Indonesia pernah ditolak Putri karena tidak mendapat restu dari ibunya akibat lokasi penempatan kerja di ujung timur Indonesia. Saat itu kondisinya masih rawan kerusuhan, membuat ibunya semakin yakin tidak mengizinkan putrinya. Akhirnya Putri ikhlas ingin bekerja di daerah Jawa saja setelah lulus S1. Ternyata ibunya tetap melarang, agar fokus melanjutkan studi dulu. Tunangan pun mendesak untuk segera menikah karena sesuai kesepakatan awal.
Putri mempersiapkan pendaftaran pascasarjananya. Dia memilih untuk melanjutkan studi di Kota Istimewa Yogyakarta. Saat persiapannya ada kejutan di Bulan April bertepatan dengan Hari Kartini terjadi sebuah perbincangan tidak terduga.
Putra: "Sepertinya kau berubah, bahkan sudag jarang komunikasi antar kita yang tidak seperti dulu lagi".
Putri: "Aku rasa ini tidak perlu dipermasalahkan karena aku sedang fokus dan berjuang disini".
Putra: "Kalau sampai kamu terbukti dengan laki-laki lain. Maaf, aku pilih mundur dari pertunangan ini".
Putri: "Silahkan, itu hakmu". Aku juga udah capek dengan tuduhanmu selama ini".
Beberapa jam kemudian Putri mendapat telvon dari ibunya yang lagi di Jakarta.
Ibu Putri: "Nak, kamu sudah diputuskan pertunangannya dengan Putra. Tadi kakak iparmu yang nelvon Ibu".
Putri: "Yasudah Bu, mungkin ini sudah jalannnya dan rencana Allah pasti indah.
Putri lagi diuji mendapat kabar buruk menurutnya yang tidak dia ketahui maksud rencana dari Allah. Sebenarnya pertanda itu sudah ada, seminggu sebelum diputuskan pertunangannya dengan Putra. Cincin pertunangannya hilang saat mengisi training pertanian pada organisasi yang pernah diikuti waktu SMA dulu. Saat dia buat status di WA tentang cincinnya yang hilang, tiba-tiba ada seorang teman organisasinya dulu yang merespon. Dia bernama Dika.
Dika: "Cincin tunangan dik ?" ?.
Putri: "Iya mas".
Dika: "Loh beneran kamu tunangan" ?.
Putri: "Sudah lama mas, sejak kuliah S1".
Dika: "Loh, mas gak menyangka kamu sudah tunangan".
Setelah keduanya chat panjang, terjadilah curhat dan Dika menyampaikan perasaan yang sebenarnya pada Putri. Ternyata Dika sudah menyimpan rasa sejak 2013 lalu, saat pertama kali bertemu di satu organisasi. Sejak saat itu sampai 2019 mereka tidak bertemu lagi. Putri kaget karena tidak menyangka saja. Ternyata beberapa hari kemudian Putri mendapat kabar diputuskan dari pihak tunangannya. Saat itu juga Putri cerita sama Dika.
Putri tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan gagal menikah. Dia tidak ingin fokusnya terpecah karena harus menyiapkan test untuk persyaratan pascasarjana agar diterima di universitas pilihannya. Setelah melakukan taaruf yang sangat singkat, mulai dari tukaran CV dan minta pertimbangan orang tua akhirnya dia menerima Dika dalam kehidupan barunya. Sebulan menjalani taaruf, lalu hari kelima lebaran Putri menyuruh Dika untuk silaturrahmi pada orang tuanya. Dika pun menyetujui dan menyampaikan niat baiknya pada orang tua Putri.
Dika:"Maaf Pak, Bu. Maksud kedatangan saya kesini untuk meminang Putri".
Bapak Putri: "Saya serahkan sama Putri".
Ibu Putri: "Saya mengizinkan, tetapi Putri ini masih ingin melanjutkan studi. Apakah Nak Dika tidak keberatan" ?.
Dika: "Insyaallah tidak bermasalah, Bu".
Putri hanya tersenyum malu sekaligus bahagia, ada sosok laki-laki yang berani mengkhitbah langsung pada orang tuanya. Dika membuktikan keseriusannya. Akhirnya beberapa hari kemudian terjadilah perbincangan antara Ibu Putri dan Ibu Dika lewat HP.
Ibu Dika: "Assalamualaikum...apakah betul ini dengan Ibunya Putri" ?.
Ibu Putri: "Iya, betul. Saya sendiri".
Ibu Dika: "Saya Ibunya Dika. Bagaimana ya jeng anak saya kemarin waktu silaturrahmi ke rumah sampean ?". Saya takut ada salah kata dari Dika.
Ibu Putri: "Saya salut dengan Nak Dika, jeng. Dia berani dan anaknya sopan".
Ibu Dika: "Alhamdulillah, terima kasih ya jeng sudah bersedia menerima anak saya".
Ibu Putri: "Sama-sama jeng, semoga ada jodoh antara anak kita".
Singkat cerita akhirnya mereka menentukan tanggal silaturrahmi keluarga besar Dika ke rumah Putri. Ditetapkan pertengahan Agustus, namun Putri harus berangkat ke Yogyakarta untuk mengurus registrasi ulang mulai awal agustus dan perkuliahan aktif pertengahan bulan. Putri juga diantar ibunya dan Dika ke Yogyakarta, bahkan Dika yang mencarikan kost yang merima pasutri karena rencana tahun 2019 menikah.
Manusia hanya perencana tapi bukan penentu hasil akhir, tetap Allah yang memutuskan. Tepat Hari Raya Qurban terjadi kejutan yang tidak terduga kembali. Putri menerima kabar dari Dika melalui WA.
Dika: "Maaf, keluarga besar saya dari om tidak mengizinkan pernikahan tahun ini. Disuruh menunda pernikahan sampai kamu menyelesaikan studi. Mereka menyarankan jangan buru-buru karena menikah tidak sebercanda itu. Sampai jumpa di lain waktu".
Putri: "Sudah kuduga pasti akan begini karena pendidikan juga menjadi penghalang pernikahanku kemarin dengan mantan tunangan. Baiklah saya menerima keputusannya, terima kasih informasinya". (mencoba tegar padahal itu berita terburuk yang Putri dapat selama hidup). Dia harus merasakan pengorbanan perasaan juga di Hari Raya Qurban, mencoba untuk ikhlas meski sulit. Semua keluarga besar Putri kecewa, namun apa daya tidak bisa menentang takdir.
Hari demi hari dilalui dengan gejolak yang tidak menentu. Kadang ingin berhenti berharap, namun Putri tau bahwa Dika tidak salah. Hanya saja takdir belum berpihak padanya, namun ingin berkomitmen untuk menunggu dalam penantian. Memang tidak masuk akal alasan ditundanya pernikahan. Kecewa yang belum sembuh akibat gagal menikah dengan mantan tunangan, malah ditambah gagal menikah yang kedua kali di tahun ini. Mantan tunangannya sering mengajak balikan dan ingin mengkhitbah lagi pada orang tuanya Putri. Tidak gampang untuk menerima kembali, selalu ditolak secara halus karena Putri masih yakin ada harapan tetap bersatu dengan Dika. Sudah banyak pengorbanan yang Dika lakukan, sampai dia rela resign dari tempat kerjanya di Surabaya untuk mempersiapkan pernikahannya dan rencana pindah ke Yogyakarta tahun ini. Semua hanya tinggal rencana saja.
Putri bersyukur dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya yang selalu mendukung untuk bangkit dari kegagalan. Dia memang tidak membuka hati untuk laki-laki lain, namun dia bersyukur atas rencana terbaik yang Allah berikan. Terdapat banyak hikmah yang didapatkan yaitu harus banyak belajar tentang pernikahan, mungkin memang Putri belum dipercaya oleh Allah menjadi seorang istri untuk saat ini. Ada kewajiban lain yang harus difokuskan yaitu belajar untuk meraih M.Sc. Sebenarnya pendidikan wanita bukan untuk menyaingi status suami nantinya. Seorang wanita harus tetaplaj berpendidikan tinggi karena sebagai pencetak atau sekolah pertama bagi generasi bangsa. Saat dihadapkan pilihan antara pendidikan dan pernikahan bagi seorang wanita adalah utamakan kewajiban. Belajar itu adalah kewajiban, jika merasa siap bisa dilakukan bersama dengan pernikahan.
Ada misteri di balik perjalanan pendidikan dan cinta Putri. Dia harus memperjuangkan cita-cita dan cintanya. Mungkin tidak bisa bersamaan, namun ada saatnya dia mendapat cintanya di waktu yang terbaik. Saat ini Dika dan Putri sama-sama berjuang menempuh pendikan di kota yang berbeda. Dika kuliah S1 lagi karena dari dulu selalu pindah kampus, sehingga belum lulus S1 sampai saat ini. Sedangkan Putri menempuh pendidikan S2. Mereka tidak mempermasalahkan status pendidikan, meski lebih tinggi Putri namun status dalam keluarga nantinya jika berjodoh tetaplah Dika yang menjadi pemimpin keluarga. Apakah mereka berjodoh ??? Lihat saja beberapa tahun yang akan datang, bisa cepat atau lebih lama. Bersabar menunggu harapan takdir berpihak pada mereka yang dilakukan oleh Putri dan Dika.
"Lebih Baik Gagal Bercinta Daripada Bercita-cita".
Tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan ternama di Indonesia pernah ditolak Putri karena tidak mendapat restu dari ibunya akibat lokasi penempatan kerja di ujung timur Indonesia. Saat itu kondisinya masih rawan kerusuhan, membuat ibunya semakin yakin tidak mengizinkan putrinya. Akhirnya Putri ikhlas ingin bekerja di daerah Jawa saja setelah lulus S1. Ternyata ibunya tetap melarang, agar fokus melanjutkan studi dulu. Tunangan pun mendesak untuk segera menikah karena sesuai kesepakatan awal.
Putri mempersiapkan pendaftaran pascasarjananya. Dia memilih untuk melanjutkan studi di Kota Istimewa Yogyakarta. Saat persiapannya ada kejutan di Bulan April bertepatan dengan Hari Kartini terjadi sebuah perbincangan tidak terduga.
Putra: "Sepertinya kau berubah, bahkan sudag jarang komunikasi antar kita yang tidak seperti dulu lagi".
Putri: "Aku rasa ini tidak perlu dipermasalahkan karena aku sedang fokus dan berjuang disini".
Putra: "Kalau sampai kamu terbukti dengan laki-laki lain. Maaf, aku pilih mundur dari pertunangan ini".
Putri: "Silahkan, itu hakmu". Aku juga udah capek dengan tuduhanmu selama ini".
Beberapa jam kemudian Putri mendapat telvon dari ibunya yang lagi di Jakarta.
Ibu Putri: "Nak, kamu sudah diputuskan pertunangannya dengan Putra. Tadi kakak iparmu yang nelvon Ibu".
Putri: "Yasudah Bu, mungkin ini sudah jalannnya dan rencana Allah pasti indah.
Putri lagi diuji mendapat kabar buruk menurutnya yang tidak dia ketahui maksud rencana dari Allah. Sebenarnya pertanda itu sudah ada, seminggu sebelum diputuskan pertunangannya dengan Putra. Cincin pertunangannya hilang saat mengisi training pertanian pada organisasi yang pernah diikuti waktu SMA dulu. Saat dia buat status di WA tentang cincinnya yang hilang, tiba-tiba ada seorang teman organisasinya dulu yang merespon. Dia bernama Dika.
Dika: "Cincin tunangan dik ?" ?.
Putri: "Iya mas".
Dika: "Loh beneran kamu tunangan" ?.
Putri: "Sudah lama mas, sejak kuliah S1".
Dika: "Loh, mas gak menyangka kamu sudah tunangan".
Setelah keduanya chat panjang, terjadilah curhat dan Dika menyampaikan perasaan yang sebenarnya pada Putri. Ternyata Dika sudah menyimpan rasa sejak 2013 lalu, saat pertama kali bertemu di satu organisasi. Sejak saat itu sampai 2019 mereka tidak bertemu lagi. Putri kaget karena tidak menyangka saja. Ternyata beberapa hari kemudian Putri mendapat kabar diputuskan dari pihak tunangannya. Saat itu juga Putri cerita sama Dika.
Putri tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan gagal menikah. Dia tidak ingin fokusnya terpecah karena harus menyiapkan test untuk persyaratan pascasarjana agar diterima di universitas pilihannya. Setelah melakukan taaruf yang sangat singkat, mulai dari tukaran CV dan minta pertimbangan orang tua akhirnya dia menerima Dika dalam kehidupan barunya. Sebulan menjalani taaruf, lalu hari kelima lebaran Putri menyuruh Dika untuk silaturrahmi pada orang tuanya. Dika pun menyetujui dan menyampaikan niat baiknya pada orang tua Putri.
Dika:"Maaf Pak, Bu. Maksud kedatangan saya kesini untuk meminang Putri".
Bapak Putri: "Saya serahkan sama Putri".
Ibu Putri: "Saya mengizinkan, tetapi Putri ini masih ingin melanjutkan studi. Apakah Nak Dika tidak keberatan" ?.
Dika: "Insyaallah tidak bermasalah, Bu".
Putri hanya tersenyum malu sekaligus bahagia, ada sosok laki-laki yang berani mengkhitbah langsung pada orang tuanya. Dika membuktikan keseriusannya. Akhirnya beberapa hari kemudian terjadilah perbincangan antara Ibu Putri dan Ibu Dika lewat HP.
Ibu Dika: "Assalamualaikum...apakah betul ini dengan Ibunya Putri" ?.
Ibu Putri: "Iya, betul. Saya sendiri".
Ibu Dika: "Saya Ibunya Dika. Bagaimana ya jeng anak saya kemarin waktu silaturrahmi ke rumah sampean ?". Saya takut ada salah kata dari Dika.
Ibu Putri: "Saya salut dengan Nak Dika, jeng. Dia berani dan anaknya sopan".
Ibu Dika: "Alhamdulillah, terima kasih ya jeng sudah bersedia menerima anak saya".
Ibu Putri: "Sama-sama jeng, semoga ada jodoh antara anak kita".
Singkat cerita akhirnya mereka menentukan tanggal silaturrahmi keluarga besar Dika ke rumah Putri. Ditetapkan pertengahan Agustus, namun Putri harus berangkat ke Yogyakarta untuk mengurus registrasi ulang mulai awal agustus dan perkuliahan aktif pertengahan bulan. Putri juga diantar ibunya dan Dika ke Yogyakarta, bahkan Dika yang mencarikan kost yang merima pasutri karena rencana tahun 2019 menikah.
Manusia hanya perencana tapi bukan penentu hasil akhir, tetap Allah yang memutuskan. Tepat Hari Raya Qurban terjadi kejutan yang tidak terduga kembali. Putri menerima kabar dari Dika melalui WA.
Dika: "Maaf, keluarga besar saya dari om tidak mengizinkan pernikahan tahun ini. Disuruh menunda pernikahan sampai kamu menyelesaikan studi. Mereka menyarankan jangan buru-buru karena menikah tidak sebercanda itu. Sampai jumpa di lain waktu".
Putri: "Sudah kuduga pasti akan begini karena pendidikan juga menjadi penghalang pernikahanku kemarin dengan mantan tunangan. Baiklah saya menerima keputusannya, terima kasih informasinya". (mencoba tegar padahal itu berita terburuk yang Putri dapat selama hidup). Dia harus merasakan pengorbanan perasaan juga di Hari Raya Qurban, mencoba untuk ikhlas meski sulit. Semua keluarga besar Putri kecewa, namun apa daya tidak bisa menentang takdir.
Hari demi hari dilalui dengan gejolak yang tidak menentu. Kadang ingin berhenti berharap, namun Putri tau bahwa Dika tidak salah. Hanya saja takdir belum berpihak padanya, namun ingin berkomitmen untuk menunggu dalam penantian. Memang tidak masuk akal alasan ditundanya pernikahan. Kecewa yang belum sembuh akibat gagal menikah dengan mantan tunangan, malah ditambah gagal menikah yang kedua kali di tahun ini. Mantan tunangannya sering mengajak balikan dan ingin mengkhitbah lagi pada orang tuanya Putri. Tidak gampang untuk menerima kembali, selalu ditolak secara halus karena Putri masih yakin ada harapan tetap bersatu dengan Dika. Sudah banyak pengorbanan yang Dika lakukan, sampai dia rela resign dari tempat kerjanya di Surabaya untuk mempersiapkan pernikahannya dan rencana pindah ke Yogyakarta tahun ini. Semua hanya tinggal rencana saja.
Putri bersyukur dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya yang selalu mendukung untuk bangkit dari kegagalan. Dia memang tidak membuka hati untuk laki-laki lain, namun dia bersyukur atas rencana terbaik yang Allah berikan. Terdapat banyak hikmah yang didapatkan yaitu harus banyak belajar tentang pernikahan, mungkin memang Putri belum dipercaya oleh Allah menjadi seorang istri untuk saat ini. Ada kewajiban lain yang harus difokuskan yaitu belajar untuk meraih M.Sc. Sebenarnya pendidikan wanita bukan untuk menyaingi status suami nantinya. Seorang wanita harus tetaplaj berpendidikan tinggi karena sebagai pencetak atau sekolah pertama bagi generasi bangsa. Saat dihadapkan pilihan antara pendidikan dan pernikahan bagi seorang wanita adalah utamakan kewajiban. Belajar itu adalah kewajiban, jika merasa siap bisa dilakukan bersama dengan pernikahan.
Ada misteri di balik perjalanan pendidikan dan cinta Putri. Dia harus memperjuangkan cita-cita dan cintanya. Mungkin tidak bisa bersamaan, namun ada saatnya dia mendapat cintanya di waktu yang terbaik. Saat ini Dika dan Putri sama-sama berjuang menempuh pendikan di kota yang berbeda. Dika kuliah S1 lagi karena dari dulu selalu pindah kampus, sehingga belum lulus S1 sampai saat ini. Sedangkan Putri menempuh pendidikan S2. Mereka tidak mempermasalahkan status pendidikan, meski lebih tinggi Putri namun status dalam keluarga nantinya jika berjodoh tetaplah Dika yang menjadi pemimpin keluarga. Apakah mereka berjodoh ??? Lihat saja beberapa tahun yang akan datang, bisa cepat atau lebih lama. Bersabar menunggu harapan takdir berpihak pada mereka yang dilakukan oleh Putri dan Dika.
"Lebih Baik Gagal Bercinta Daripada Bercita-cita".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar