Minggu, 29 September 2019

Politik Kampanye Hitam Pada Sawit di Indonesia

Sebulan lalu negara kita baru merayakan dirgahayu kemerdekaan, tepat pada 17 Agustus. Sebenarnya Indonesia sudah merdeka seutuhnya belum ?. Jika kata merdeka identik dengan kesejahteraan, maka sebenarnya kita belum merdeka. Masih banyak permasalahan di negeri ini yang belum terselesaikan, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya bahkan politik. Hal yang paling dominan adalah politik karena merupakan pemicu dari semua permasalahan yang terjadi. 

Politik menurut KBBI adalah segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lainnya. Ada definisi dari sudut pandang yang berbeda yaitu berdasarkan teori klasik Aristoteles bahwa politik adalah usaha warga negara untuk mencapai tujuan bersama. Mungkin selama ini, banyak yang menilai politik itu berkonotasi negatif. Padahal seharusnya bermakna positif, tidak boleh hanya menguntungkan satu pihak saja dan merugikan yang lainnya.

Kehidupan ini tidak akan lepas dari politik, terutama pada pelaku usaha, salah satunya adalah HTI (Hutan Tanaman Industri). Apa yang terlintas dalam pikiram saat mendengar HTI ? Pasti adalah tanaman kelapa sawit yang saat ini menjadi tanaman primadona sebagai tanaman industri. Bahkan juga disebut sebagai "Golden Crop" (tanaman emas). Begitu berharganya tanaman tersebut seperti emas yang bernilai jual tinggi. 

Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman industri sebagai penyumbang devisa negara terbanyak diantara sektor yang lain. Indonesia memiliki luas lahan tanaman tersebut sebanyak 14,6 juta ha. Sebenarnya tanaman ini bukan berasal dari Indonesia, namun dari Afrika. Akan tetapi faktor curah hujan dan penyinaran matahari yang cukup, membuat tanaman ini tumbuh baik di Indonesia. 

Minyak kelapa sawit yang dihasilkan selalu dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai minyak nabati untuk menggoreng, atau komposisi dalam makanan dan produk lainnya. Jadi, tidak heran jika tanaman ini sangat berpotensi untuk dikembangkan. Produksi potensial CPO bisa mencapai 7-8 ton/ha/tahun, namun potensi aktualnya hanya 3-3,5 ton/ha/tahun. Hal ini disebabkan gap produksi baik dari bahan tanam, tanah, iklim, pemeliharaan dan panen. Oleh sebab itu, terdapat Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk terus meningkatkan produksi sesuai potensialnya. 

Negara yang mengekspor CPO (Coconut Palm Oil) adalah Indonesia dan Malaysia. Negara  tujuan ekspor terbanyak adalah India, sangat sedikit untuk tujuan Negara Eropa kecuali Belanda. Itupun hanya sedikit, karena susah untuk mengekspor CPO ke Negara Eropa daripada Asia. Sebenarnya apa penyebabnya ?. 

Tanaman sawit di Indonesia banyak mendapat Black Campaign (Kampanye Hitam) yang membuat mindset negatif terhadap tanaman tersebut. Pelakunya dari negara lain bahkan dari negara sendiri. Memang aneh saat Indonesia menjatuhkan  Berikut beberapa kampanye hitam yang dilakukan oleh pihak yang kontra terhadap industri tanaman kelapa sawit. 
1. Minyak nabati yang dihasilkan kelapa sawit dianggap tidak menyehatkan karena mengandung jenuk lemak tinggi yang menyebabkan kolestrol. Padahal yang tidak menyehatkan itu yang berlebihan, jika dikonsumsi secara wajar maka tidak akan menimbulkan penyakit.
2. Merusak hutan
Pembukaan lahan hutan yang dijadikan perkebunan kelapa sawit saat ini menjadi permasalahan. Akibatnya terjadi tebang pohon di hutan yang seharusnya memproduksi kayu yang mempunyai nilai jual tinggi juga. Hutan sebagai penyimpan karbon menjadi berkurang karena pohon mulai berkurang. 
Hal ini memang harus dikaji ulang oleh pelaku usaha HTI dan pemerintah yang memberikan izin pembukaan kebun di hutan. 
3. Menyebabkan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)
Baru-baru ini telah terjadi karhutla di Riau yang berdampak pada provinsi lain seperti Kalimantan, bahkan asapnya sampai ke negara tetangga yaitu Malaysia. Pembukaan lahan kelapa sawit terutama di lahan gambut menjadi permasalahan utama yang dituding sebagai pemicu kebakaran. 
4. Mencemari Lingkungan
Limbah dari CPO yang terbuang ke aliran permukaan air dapat mencemari lingkungan. Padahal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit sudah meneliti pemanfaatan limbah tersebut agar lebih ramah lingkungan. 

Begitulah beberapa hal yang dikampanyekan pada HTI (Hutan Tanaman Industri) kelapa sawit. Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit menyampaikan bahwa pihak yang mengkampanyekan negatif pada kelapa sawit adalah ciri iri tanda tidak mampu. Faktanya sebagai penyumbang devisa negara yang terbanyak diantara sektor lain, sedangkan Negara Eropa tidak mampu memproduksi kelapa sawit. Politik kampanye hitam ini sedang dimanfaatkan oleh pelaku usaha lainnya untuk menurunkan ekstensi kelapa sawit di Indonesia agar bisa digantikan oleh sektor lain. Mulai saat ini mari kita kampanyekan positif tentang kelapa sawit dengan tetap memperhatikan permasalahan dan solusinya pada lingkungan. 

Dikutip dari quotes Presiden Jokowi "Menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia maka artinya kita juga harus terdepan pula dalam pengelolaan". Semoga artikel ini mengubah mindest negatif menjadi positif pada kelapa sawit. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar