Kamis, 10 Oktober 2019

Aktivitas Pertanian Mendatangkan Pahala dan Dosa, Kenapa ?

Foto bersama tim riset pertanian

Salam sobat seluruh tanah air, semoga sehat dan bahagia selalu 😊

Saya masih sama seperti Pipit yang kalian kenal, senang bermain ke sawah. Bersahabat dengan tanaman dan sebagai pengamat masalah tanah, hama penyakit dan ekologi pertanian. Saya terlahir dari keluarga enterpreneur, pendidik dan petani, itu adalah sebuah anugerah luar biasa yang saya dapatkan. Maka nikmat Tuhan manakah yang bisa didustakan ?.

Waktu kecil terinspirasi dari mbah, om dan tante yang berprofesi sebagai guru. Muncullah jawaban ingin menjadi dosen saat ditanya cita-cita. Memasuki SMP-SMA mulai mencintai bahasa asing, jadi berubah ingin menjadi penerjemah dan kerja di Luar Negeri. Entah kenapa seperti ada panggilan jiwa dari diri sendiri untuk mempelajari ilmu pertanian. Jadi teringat lirik lagu "Entah Apa Yang Merasukimu" . Padahal pilihan saya sangat bertentangan dengan impian ibu ingin mempunyai anak dokter. Takdir Allah melalui petunjuk istikharah, akhirnya saya yakim memutuskan untuk kuliah jurusan Agroteknologi.  

Puji syukur saya tidak tersesat di Fakultas Pertanian seperti kebanyakan teman-teman kelas lain yang hanya menjadikan tempat pelarian karena ditolak jurusan lain. Aduh sakit ya kalau hanya dijadikan tempat pelarian karena putus dari mantan 🙊
Loh, skip jangan lanjut dibahas nanti ada yang baper 😁

Alasan utama saya belajar ilmu pertanian ingin memberikan sumbangsih pada negara agraris sebagai pejuang pangan. Kita semua tidak ingin kelaparan, makanya jangan meremehkan petani. Memang pakaian kerjanya tidak serapi pekerja kantoran, namun berani kotoran. Tidak memakai dasi, hanya topi sawah. Bekerja tidak mengendarai mobil, biasa mengendarai traktor saja. Peralatan kerja setianya adalah cangkul. AC di tempat kerjanya menggunakan kipas alami, yaitu desiran angin di sawah yang sepoi-sepoi. 

Saya sebagai umat muslim merasa bangga pada petani karena dalam Al-Qur'an juga sudah dijelaskan bahwa Allah menciptakan bumi ini penuh dengan kekayaan sumberdaya alam melimpah. Oleh karena itu diperintahkan untuk bercocok tanam. Ingat setiap tetesan keringat petani adalah pahala tiap butir bulir yang menjadi nasi makanan pokok kita sehari-hari. Lantas apa saja pahala di bidang pertanian  ? 
Yuk, baca satu persatu agar lebih menghargai profesi petani 😊

1. Sebagai pejuang pangan (bercocok tanam menghasilkan tanaman yang bisa dipetik buahnya, daunnya dan umbinya untuk dikonsumsi). 
2. Sebagai penyelamat bumi (jika tanah diolah dengan baik untuk pertanian, maka akan menjamin kelestariannya dalam jangka panjang sebagai warisan untuk anak cucu masa depan).
3. Ikut berperan menyumbang devisa negara. Setiap hasil komoditas yang dipanen, ada yang diekspor ke Luar Negeri. Disitulah ada peran petani di belakang layar yang melakukan proses menanam sampai panen.

Ketiga hal tersebut adalah jasanya yang InsyaAllah berpahala. Sobat millenial juga harus tau apa saja aktivitas yang menimbulkan dosa-dosa tanpa sengaja atau tidak telah dilakukan di bidang pertanian. Berikut hasil survey yang ditemukan di lapangan:
1. Menggunakan bahan kimia dalam pertanian yang dapat menimbulkan penyakit bahkan kematian. Sudah ada kasus di lapang yaitu petani yang menyemprot pestisida di sawah, lalu gas yang disemprotkan terhirup olehnya menyebabkan sesak nafas atau bahkan kematian.
Solusi: menggunakan biopestisida yang lebih ramah lingkungan.
2. Membunuh musuh alami (binatang kecil) yang memang tersedia untuk keseimbangan alam melalui pestisida. Padahal mereka sebenarnya dibiarkan saja akan lebih baik. Itu salah satu prinsip pertanian organik yaitu menyelamatkan musuh alami.
3. Menyumbang gas rumah kaca 15% yang banyak disebabkan dari pemakaian pupuk kimia, residu hasil panen, dan pupuk kotoran sapi yang mengandung metana. Oleh sebab itu, solusinya adalah menggunakan pupuk organik yang sudah dikomposkan.
4. Sewa lahan pertanian yang sudah menjadi kaprah, padahal ini dilarang dalam agama Islam. Alasannya adalah terjadi ketidak adilan. Bagi pemilik lahan hanya menyewakan saja kepada petani yang butuh, lalu lahannya dikelola menjadi lahan pertanian dan nanti bagi hasil. Seharusnya pemilik lahan sendiri mengelola lahannya. Sewa lahan terlihat jelas bahwa petani merasa dirugikan karena keuntungan sedikit daripada pemilik lahan. Padahal tenaga yang dikeluarkan lebih banyak petaninya.
Solusi: Pemilik lahan yang luas , sebaiknya memberikan langsung lahannya secara percuma kepada petani untuk digarap tanpa meminta bagi hasil.
5. Kredit pertanian yang saat ini sangat diminati petani untuk meminjam uang ke BANK. Hal ini seharusnya dihindari karena pasti ada sistem riba.
Solusi: menggunakan koperasi syariah di kelompok pertanian.
6. Menimbulkan bencana alam seperti longsor, kebakaran hutan dan lahan. Bencana tersebut akan terjadi pada teknis budidaya yang salah. Misalnya bercocok tanam tanam di lereng yang tidak dibuatkan terasering. Begitu juga pada kebakaran hutan dan lahan yang menjadi masalah tiada henti. Pembukaan Hutan Tanaman Industri di lahan gambut bisa menjadi penyebab kebakaran saat air muka tanah menurun dan mengalami kekeringan.
Solusi: Melakukan evaluasi lahan sebelum penanaman atau melakukan konservasi untuk mengurangi bencana.

Sudah ya, nanti saya dikira kontra pertanian padahal sarjana pertanian 😁
Saya menilai dari sudut pandang sebagai pengamat pertanian selama ini, bahwa masih banyak yang diaplikasikan di lapang tidak sesuai dengan ilmu pertanian yang semestinya. Jadi, saya hanya berharap sistem pertanian Indonesia lebih baik jika kita memang ingin mewujudkan visi sebagai lumbung pangan Indonesia 2045.

Wahai pemuda Indonesia !!!
Kita hidup di negara agraris bukan di negara teroris. Jangan mati kelaparan di negara sendiri, ayo beraksi jadi petani berdasi 😊

Yogyakarta, 10 Oktober 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar