Jumat, 24 Januari 2020

Filosofi Petani

Sumber: Google

Pagi hari buta bangun dengan semangat
Membawa alat perang cangkul dan topi ke sawah
Bekerja merawat hasil bumi agar bermanfaat
Bekerja dengan ikhlas dan lillah

Disebutnya petani
Profesi mulia yang tak kalah dengan pejuang kemerdekaan
Dialah pahlawan pangan pengisi kemerdekaan
Tak ingin adanya kelaparan

Mungkin sebagian orang merendahkan profesinya
Namun dia tetap menekuninya
Bahkan bisa membuktikan pada cibiran netizen 
Bahwa petani juga mampu hidup sejahtera dengan hasil panen

Meski faktanya petani di Indonesia belum sejahtera sepenuhnya
Namun mereka tak pernah meninggalkan profesinya
Begitu setia pada pilihan hidupnya
Tidak seperti pasangan yang selingkuh dimana-mana

Wisatanya bukan ke Kota Padang tapi Ladang
Temannya bukan Batman tapi Tanaman
Musuhnya bukan Haters tapi Hama
Musim yang ditunggu bukan Salju tapi Panen

Hidupnya begitu sederhana
Tapi tak pernah terlihat merana 
Meski hidup tidak mewah
Keluarganya bahagia bersama di sawah

Aku iri melihat mereka bercumbu ria
Saat makan nasi dari padinya
Terlihat rasa syukur nikmat di wajahnya
Tertampar diri ini yang kurang bersyukur

Teringat seorang petani inspirasi
Surono Danu penemu bibit unggul padi sertani
Separuh hidupnya untuk meneliti padi
Kokoh mempertahankan temuannya untuk negerinya sendiri walau akan dibeli oleh warga asing

Petani abdimu terus mengalir
Profesimu adalah amal jariyah
Mengalir terus amal kebaikan dari setiap benih yang kau tanam dan rawat
Hingga menjadi sebuah hidangan di meja makan

Hancurlah dunia jika tidak ada petani
Tidak ada  lagi yang merawat hasil bumi 
Makanya kuingin menjadi petani berdasi
Agar petani tidak dipandang hina lagi

#Challange10harimenulis
#komunitasmenulis





Selasa, 21 Januari 2020

Filosofi Jas Hujan

Pagi tadi air langit membasahi bumi
Namun tak memadamkan semangat si bungsu menimba ilmu
Dipakailah jas hujan menutupi seragamnya

Kuantar ke sekolahnya
Memastikan dirinya tidak basah
Meski kuhanya mengunakan jaket

Jas hujan bukan seperti payung
Hanya dipakai saat hujan
Menempatkan sesuatu sesuai waktu dan tempatnya

Ada sikap pengorbanan diri
Merelakan dirinya sendiri basah
Untuk melindungi penggunanya

Penggunaannya praktis tanpa harus dipegang tangan
Mengajarkan manusia bersikap lebih praktis
Selain mampu berfikir kritis

Jenisnya jas hujan banyak
Ada jas hujan pribadi atau egois
Ada jas hujan bersama atau bersahabat

Tinggal kita memilih menjadi egois atau bersahabat
Egois akan dijauhi banyak orang
Bersahabat akan didekati banyak orang

Nanti akan kuceritakan jas hujan penuh kenangan
Melewati rintik-rintik kenangan
Mengguyur masa lalu menerjang masa depan

Kala itu berboncengan
Berjas hujan dengannya
Melaju pelan-pelan menyusuri panjangnya jalanan

Terima kasih jas hujan
Melindungi diri dari terjangan hujan
Memberikan kenangan setiap saat

#10harimenulis
#komunitasmenulis


Filosofi Buah Naga

Penyuka si merah alami
Selesai makan satu kupas saja, air seni pun mengalir merah
Namanya tidak sesuai dengan bentuknya

Kenapa nama hewan jadi nama buah
Teka teki yang belum terjawab
Seperti perasaan yang belum terbalas
Eitss jomlo dilarang baper

Naga namanya
Mungkin karena buah obat
Termasuk rajanya buah

Nama tidak selamanya mencerminkan sifat asli
Meski nama setan, ada manusia yang bersifat malaikat
Begitu sebaliknya, makanya jangan mudah tertipu

Kebunnya jadi agrowisata
Dikunjungi banyak orang
Seharusnya rumah kita juga memberika manfaat
Jadi kunjungan sanak saudara atau sahabat

Multifungsi selain sebagai buah, obat herbal juga gincu alami
Merahnya bibir tidak perlu bergincu
Mengajarkan kita untuk hidup sehat

Saat musimnya harganya murah namun manis
Mengajarkan hidup harus murah hati dan bersikap manis
Bukan bersikap jual mahal dan berhati busuk

Buah naga bisa jadi minuman atau makanan
Jus dan puding naga sajian lezat
Ibarat profesi apa saja yang penting sama-sama bermanfaat

Kaya khasiat meski namanya menyeramkan
Manusia juga harus membuktikan kaya hatinya meski ditakuti untuk didekati
Buktikan bahwa sikap lebih baik dari nama

#10harimenulis
#komunitasmenulis


Filosofi Keju

Baik anak desa
Atau anak kota
Berjiwa millenial dan berselera western

Diriku dibesarkan di pulau surganya jagung
Menjadi makanan pokok karunia dari Sang Agung
Nikmatnya nasi jagung bersanding dengan kuah daun kelor

Saat itu belum mengenal si asin lezat
Berwarna putih atau kuning dan bentuknya memanjang atau kotak
Keju namanya tapi bukan singkatan seorang aktor Kevin Julio

Orang mengenalnya Si Cheddar, Kraft atau Mozarella
Membayangkan saja sudah tergiur lezatnya
Namun lidah asia tulen merasa aneh mencicipinya

Sudah ada Sebelum Masehi
Terbuat dari pasteur susu sapi
Terkenal di Yunani

Wahai penikmat keju
Apa yang kau dapat ?
Jangan menjawab hanya soal rasa

Keju ibarat sebuah fisik manusia
Terlihat lezat dan mulus
Ternyata masih ada yang berongga seperti celah keburukan sifat manusia

Restoran bintang lima akan menyajikan makanan rasa keju
Karena ada penambahan nilai untuk cita rasanya
Belajarlah seperti keju menjadi added value (nilai tambah) dalam kehidupan

Jika hanya dimakan percuma terasa asin
Bila dicampur dengan bahan lain terasa lebih enak
Begitulah jika hidup berdampingan terasa lebih nikmat

Keju multifungsi sebagai sajian
Ada yang diparut atau cukup dipotong kotak
Mengajarkan manusia untuk multitalent

Terima kasih keju
Kau memberikan makna
Melebihi hidangan biasa

#10harimenulis
#komunitasmenulis

Filosofi Masakan Wanita

Challange Menulis Hari Ke-2 Terlewati

Masih ingat memoriku 
Akan hutang menulis yang belum dibayar
Begitulah jika berjanji atas nama cinta pasti ditepati

Ingin kubagi cerita
Moment yang terlewati
Belajar memasak untuk tamu spesial

Kesekian kalinya kedatangan tamu misteri
Bukan seorang yang diutus peri
Bukan juga penjual teri

Lantas kubingung akan menyajikan apa
Masak kopi saja kadang pahit
Namun tak sepahit masa lalu yang mengecewakan

Bersyukur punya guru private sejak kecil yang kupanggil ibu
Diajar masak kue brownies dan cheese cake
Rasanya semanis janji tamu untuk masa depan

Hai wanita...
Tidak cukup hanya pandai berdandan
Tanpa kenal dengan wajan atau kue rasa pandan

Tugasmu di kasur, dapur dan sumur
Jadi slogan mengglobal
Sungguh kubangga jadi sosokmu

Masakan wanita yang dimasak sepenuh cita
Ibarat kehidupan yang memberikan aroma rasa
Menggairahkan orang lain untuk mencicipi

Jika hidup penuh suka cita
Orang sekitar akan tertular suka cita
Bukan tertukar jiwa gila

Tak peduli masakan wanita dihina
Lebih baik daripada wanita yang pandai menghabiskan uang saja
Hingga slogan "workshop", suami work dan istri shopping jadi senjata para ibu sosialita

Lucu wanita yang suka masak dengan rasa asin melanda, katanya ngebet nikah
Jangan sampai suami makan di meja makan tetangga
Jika sampai terjadi itu tanda istri yang tega
Membiarkan suami tidak betah di rumah

Masaklah dengan rasa cinta
Cinta untuk keluarga
Cinta untuk siapapun

Resapi dengan varian rasa
Seperti manis atau pahitnya kehidupan
Syukuri karunia  Tuhan Yang Maha Esa

#10harimenulis
#komunitasmenulis

Selasa, 10 Desember 2019

Panggung Sandiwara

Part sebelumnya sudah membahas bingkai kehidupan. Sekarang kita akan lanjut membahas tempatnya bingkai kehidupan yaitu panggung sandiwara. Apa yang terlintas dalam benak kita ?

Panggung sandiwara ?
Panggung teater ?
Drama sinetron ?
Pertunjukan di atas panggung ?
dan lainnya tentang dunia acting.


Dunialah yang menjadi panggung sandiwara. Jika membahas sandiwara, pasti terdiri dari berbagai komponen di dalamnya. Ada sutradara, panggung, artis, dan penonton. Apa saja itu ?. Pasti sudah tidak asing di telinga kita, semuanya bisa dipelajari satu persatu hubungannya dengan dunia.


1. Panggung
Tempat pertunjukan yang biasa dipertontonkan dan ditonton. Bumilah tempat yang kita pijak menjadi panggungnya. Banyak sekali pertontonan di dalamnya.
Begitu halnya dengan kehidupan yang mempertontonkan banyak sketsa kehidupan. Ada sebuah istilah sketsa elegi yaitu kerangka kesedihan, namun ada juga yang mempertontonkan kebahagiaan. Semua tontonan yang ada di panggung sandiwara bisa berakhir dua kemungkinan yaitu happy ending or sad ending.  
Sebenarnya dalam kamus hidup saya yang berlandaskan pedoman Al-Quran wajib happy ending dan haram sad ending.  
Setiap manusia ingin mengakhiri kehidupannya di panggung sandiwara (dunia) dalam keadaan Husnul Khotimah (kebaikan). Semuanya ditentukan oleh peran yang ditimbulkan dari fikiran diri sendiri, jika memang berfikir positif maka hasil akhirnya juga positif. Berbeda dengan manusia yang berfikir negatif, maka selamanya akan berdampak negatif karena tanpa disadari akan perbuatan atau sikapnya akan mewujudkan sama seperti apa yang difikirkan.
Ingatlah bahwa di panggung banyak akan ditemukan properti sebagai alat pendukung peran atau bahkan properti yang membahayakan. Dalam kehidupan nyata yang menjadi properti terbaik adalah iman dan taqwa. Saat hidup sudah berbalut iman dan berhias taqwa, maka kebaikan akan selalu menyertai.

2. Sutradara
Panggung sandiwara tidak akan tercipta tanpa adanya sutradara. Sudah bisa ditebak kan sutradara kehidupan ?
Iya, Allah Yang Maha Esa adalah Sang Pembuat Skenario semua makhluk hidup di muka bumi ini. Alur ceritanya tidak bisa ditebak, hal tersebut menjadi hak priogratif Allah Yang Maha Esa. Jadi tidak perlu khawatir akan semua takdir yang dijalani, misal khawatir jodoh datang terlambat atau rezeki akan tertukar. Semuanya sudah tertulis bagian kehidupan kita di lauhul mahfuz (tempat catatan takdir manusia). Jika kita memang beriman, maka harus percaya akan qada dan qadarnya. Ingat firman Allah "Bahwa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah". Jadi Allah adalah sutradara paling terbaik yang tidak perlu diragukan dalam membuat alur cerita kehidupan hambanya. Cobalah untuk menikmati dan mengambil hikmah dari setiap kejadian, maka hidupmu akan bahagia.

3. Aktor/artis
Kalau sudah ada sutradara dan panggung, pasti asa artisnya sebagai pemerannya. Manusia adalah artis yang awalnya ditentukan menjadi protagonis semua. Sebenarnya tidak ada manusia yang jahat, kadang lingkungan dan kebiasaanlah yang menjadikan si protagonis menjadi antagonis. Jika kita berteman dengan seorang penjual minyak wangi, maka akan tercium juga harumnya. Begitu sebaliknya, jika kita berteman dengan maling ada kemungkinan terseret juga menjadi maling atau terduga. Jadilah aktor/artis protagonis (melakukan kebaikan tanpa melakukan kejahatan kepada orang lain). Mentaati aturan dan menjauhi langgaranNYA.
Kita mengetahui bahwa peran protagonis yang paling disuka oleh penonton, begitu sebaliknya antagonis sangat dibenci. Sekarang tinggal memilih ingin dicintai atau dibenci. Pilihan ada pada diri kita sendiri, bahkan ada yang hanya menjadi peran pembantu. Jika ingin mengambil peran penting, jadilah pemeran utama. Berani mengambil keputusan dan bersikap untuk kehidupan diri sendiri.

4. Penonton
Jika semuanya sudah lengkap, jadilah sebuah tontonan. Lalu siapa yang menonton ?. Iya, penonton. Jika sutradara dan aktor/artis berkarya, maka penonton hanya bisa menikmati hasil karya orang lain. Sebenarnya tidak ada larangan menjadi penonton, namun diharapkan tidak selamanya menjadi penonton.
Cobalah untuk berinovasi, berkontribusi dan menginspirasi. Jika orang lain bisa, seharusnya diri sendiri mampu juga bahkan bisa melampui batasnya. Jika selamanya memilih jadi penonton, maka akan tertinggal jauh. Buktinya saja Indonesia akan selamanya menjadi negara berkembang jika warganya hanya menjadi penonton tanpa beraksi untuk berinovasi. Jadi, mulai saat ini kita mulai menggali potensi diri agar menjadi aktor/artis dan tidak selamanya menjadi penonton. 

Minggu, 24 November 2019

Bingkai Kehidupan



Berawal dari goresan tinta kita mengenal di dunia literasi. Mungkin kalian pernah penasaran atau istilahnya (re: kepo) dalam bahasa sekarang kepada penulis buku yang dibaca. Apalagi jika itu buku bacaan favorit yang penulisnya sudah legendaris seperti Asma Nadia, Tere Liye, Andrea Hirata, Habiburrahman El-Razy, Rifa'i Rif'an, Dewi Lestari, dan penulis kebanggaan Indonesia lainnya. Bahkan ada juga seorang komedian yang kita kenal Raditya Dika berhasil menjadi penulis hingga dijadikan film dan menjadi aktornya sendiri. Filmnya sukses di layar lebar, sama halnya dengan Pidi Baiq yang tulisannya tentang Dilan sukses menjadi tontonan favorit remaja galau. Eh bukan, maksudnya remaja sedang jatuh hati. Tidak cukup hanya penulis Indonesia, banyak juga lahir penulis internasional yang berhasil mendobrak cakrawala dan menebar inspirasi melalui tulisannya seperti J.K. Rowling, Stephen King dan lainnya.

Pepatah mengatakan bahwa "Tak kenal maka tak sayang". Pernyataan itu sama halnya dengan diriku yang ingin disayang. Salam kenal walau belum terkenal seperti para penulis hebat yang disebutkan diatas. Saya hanya pendatang baru di dunia literasi, bahkan berlatar pendidikan pertanian. Tidak ada yang salah darimana kita memulai. Justru yang salah adalah tidak berani memulai. Jangan khawatir meski tidak terlahir dari keluarga penulis, harus disadari bahwa setiap manusia biaa menulis. Termasuk saya yang masih belajar dan terus belajar sampai hayat. Jika ditanya tujuan saya menulis adalah berbagi pengalaman. Saya tidak pernah tau tulisan yang mana akan menjadi pengobat atau penguat pembaca. Disitulah energi positif akan mengalir terus meski saya sudah tiada di dunia.

Pembaca pasti akan mengenal karakter penulis dari gaya tulisannya. Menurut ilmu psikologi memang goresan tinta tidak bisa membohongi suasana (mood) saat menulis apalagi habbit atau kebiasaan yang sudah memdarah daging. Ketikan memang tidak bisa terlihat jelas tergantung fontnya. Hehe
Justru yang terlihat perbedaan tulisan tangan tiap orang, ada yang cenderung miring menandakan pemalu dan cenderung tegak menandakan tegas namun agak egois. Saya tidak percaya sepenuhnya terhadap karakter dilihat dari tulisan, namun beberapa kali tes kepribadian hasilnya selalu sama. Iya, saya adalah sosok sanguinis ekstrovert.

Terlahir dengan nama Fitriya Kulsum dari ujung timur Pulau Madura. Siapa sangka semasa kecilnya pemalu sekali, ternyata keadaanlah yang merubah karakter awal. Saya menikmati menjadi sanguinis yang hidupnya penuh kebebasan dalam bersikap, terutama easy going dalam menjalankan kehidupan. Ditambah ekstrovert yang selalu terbuka pada orang lain, membuat hidupnya tidak merasakan sedih sendiri. Pribadi yang selalu berbagi suka maupun dukanya.

Beginilah bingkai hidup seperti bingkai foto yang dibuat sesuai selera. Sama halnya dengan percakapan di sebuah photo studio.
"Mau ukuran berapa ?", tanya penjual.
"10R saja", jawab suami.
"Jangan bi, kan foto keluarga mau dipajang di ruang tamu. Kurang besar kalau 10R, 25R saja", bantah istri.
"Baiklah, mau pilih motif yang mana?", tanya penjual menawarkan lagi.
"Warna emas yang ada ukiran pohonnya saja lebih elegan", jawab istri spontan.
Berbeda dengan karakter suami yang lebih suka motif vintage lebih unik dan menarik.

Percakapan diatas menunjukkan bahwa bingkai kehidupan itu beraneka ragam. Ada suka, duka, tawa, bahagia, kecewa, menangis dan menyesal.  Memang bahan baku bingkai dibuat oleh tukang kayu atau mebel. Bahan baku bingkai kehidupan memang berasal dari Tuhan. Manusia yang mencoba membuat dan menghiasi bingkai kehidupannya sendiri. Mungkin kalian pernah tau ada sebuah adat yakni orang tua menuliskan sesuatu di kertas putih sambil menggendong anaknya yang baru lahir. Ada tulisan harapan orang tua yang menggambarkan kehidupan anaknya di masa depan nanti. Begitu juga bingkai kehidupan, mau dicetak dan dipoles bagaimana tergantung pemiliknya.

Rezeki, jodoh dan ajal memang sudah ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfudz. Saat kita terlahir di dunia, melepaskan genggaman tangan dan menangis membuat kita lupa akan semua janji-janji hamba kepada Pencipta-NYA. Agama Islam mengajarkan berupa firman Allah bahwa "Tidak akan dirubah nasib seseorang, kecuali mengubahnya sendiri". Sedangkan ajal adalah pengecualian karena tidak bisa dimaju atau dimundurkan waktunya, tugas manusia hanya menghias bingkai kehidupan yang terbaik tiap harinya agar siap ditunjukkan kepada Tuhan di fase keabadian nanti.

Ajal memang berbeda dengan rezeki, jika terlahir miskin akan selamanya miskin apabila tidak berusaha mengubah nasib. Makanya orang merantau demi mengadu nasib di kota bahkan negara lain. Apabila sudah berikhtiar, namun masih belum berubah menjadi lebih baik baru bertawakkal (menyerahkan kehendak-NYA). Kadang manusia rakus, memang itu sifat manusiawi yang harus dihindari. Jika porsi rezeki berlebih akan tumpah juga, memang sepantasnya  harus disedekahkan bukan malah masuk kantong yang akhirnya jebol dan hilang seperti ATM dibobol. Hehe.
Jangan mudah menyerah sebelum berikhtiar, tetaplah tangguh pada hasil akhirnya. Jangan larut dalam kesedihan, buatlah bingkai kebahagiaan lebih banyak.

Bingkai kehidupan selalu berpasangan seperti garam dan gula yang hambar tanpa kehadiran keduanya dalam makanan. Suka  dan duka pasti hadir, makanya jangan terlalu bahagia berlebih saat memperoleh kesenangan. Setiap ada tawa pasti ada duka, begitu sebaliknya jangan menumpahkan seluruh air mata saat kesedihan melanda. Percayalah bahwa dalam setiap bingkai kehidupan terdapat potret kehidupan. Ada keluarga yang setia mendukung, teman, sahabat dan lainnya yang akan menjadi saksi perjalanan hidup.

Ingatlah kita hidup di dunia tidak sendiri, banyak sekali pendamping yang setia menemani. Ajaklah mereka saling melengkapi bingkai kehidupannya. Kita sendirilah yang berhak menentukan bingkai kehidupan masa lalu, saat ini dan masa depan dengan syarat mendapat ridho Tuhan. Bagaimana agar tercapai ? Jawabannya mudah, penuhi peritah-NYA dan jauhi larangan-NYA.
Sudah siap membuat bingkai kehidupan terbaikmu ?
Jika masih banyak kekurangan, berbenahlah diri selagi diberi kesempatan. Jangan sampai menyesal karena bingkai kehidupanmu hancur ketika menghadap Sang Penyedia bingkai kehidupan (Azzah wa jalla).