Berawal dari goresan tinta kita mengenal di dunia literasi. Mungkin kalian pernah penasaran atau istilahnya (re: kepo) dalam bahasa sekarang kepada penulis buku yang dibaca. Apalagi jika itu buku bacaan favorit yang penulisnya sudah legendaris seperti Asma Nadia, Tere Liye, Andrea Hirata, Habiburrahman El-Razy, Rifa'i Rif'an, Dewi Lestari, dan penulis kebanggaan Indonesia lainnya. Bahkan ada juga seorang komedian yang kita kenal Raditya Dika berhasil menjadi penulis hingga dijadikan film dan menjadi aktornya sendiri. Filmnya sukses di layar lebar, sama halnya dengan Pidi Baiq yang tulisannya tentang Dilan sukses menjadi tontonan favorit remaja galau. Eh bukan, maksudnya remaja sedang jatuh hati. Tidak cukup hanya penulis Indonesia, banyak juga lahir penulis internasional yang berhasil mendobrak cakrawala dan menebar inspirasi melalui tulisannya seperti J.K. Rowling, Stephen King dan lainnya.
Pepatah mengatakan bahwa "Tak kenal maka tak sayang". Pernyataan itu sama halnya dengan diriku yang ingin disayang. Salam kenal walau belum terkenal seperti para penulis hebat yang disebutkan diatas. Saya hanya pendatang baru di dunia literasi, bahkan berlatar pendidikan pertanian. Tidak ada yang salah darimana kita memulai. Justru yang salah adalah tidak berani memulai. Jangan khawatir meski tidak terlahir dari keluarga penulis, harus disadari bahwa setiap manusia biaa menulis. Termasuk saya yang masih belajar dan terus belajar sampai hayat. Jika ditanya tujuan saya menulis adalah berbagi pengalaman. Saya tidak pernah tau tulisan yang mana akan menjadi pengobat atau penguat pembaca. Disitulah energi positif akan mengalir terus meski saya sudah tiada di dunia.
Pembaca pasti akan mengenal karakter penulis dari gaya tulisannya. Menurut ilmu psikologi memang goresan tinta tidak bisa membohongi suasana (mood) saat menulis apalagi habbit atau kebiasaan yang sudah memdarah daging. Ketikan memang tidak bisa terlihat jelas tergantung fontnya. Hehe
Justru yang terlihat perbedaan tulisan tangan tiap orang, ada yang cenderung miring menandakan pemalu dan cenderung tegak menandakan tegas namun agak egois. Saya tidak percaya sepenuhnya terhadap karakter dilihat dari tulisan, namun beberapa kali tes kepribadian hasilnya selalu sama. Iya, saya adalah sosok sanguinis ekstrovert.
Terlahir dengan nama Fitriya Kulsum dari ujung timur Pulau Madura. Siapa sangka semasa kecilnya pemalu sekali, ternyata keadaanlah yang merubah karakter awal. Saya menikmati menjadi sanguinis yang hidupnya penuh kebebasan dalam bersikap, terutama easy going dalam menjalankan kehidupan. Ditambah ekstrovert yang selalu terbuka pada orang lain, membuat hidupnya tidak merasakan sedih sendiri. Pribadi yang selalu berbagi suka maupun dukanya.
Beginilah bingkai hidup seperti bingkai foto yang dibuat sesuai selera. Sama halnya dengan percakapan di sebuah photo studio.
"Mau ukuran berapa ?", tanya penjual.
"10R saja", jawab suami.
"Jangan bi, kan foto keluarga mau dipajang di ruang tamu. Kurang besar kalau 10R, 25R saja", bantah istri.
"Baiklah, mau pilih motif yang mana?", tanya penjual menawarkan lagi.
"Warna emas yang ada ukiran pohonnya saja lebih elegan", jawab istri spontan.
Berbeda dengan karakter suami yang lebih suka motif vintage lebih unik dan menarik.
Percakapan diatas menunjukkan bahwa bingkai kehidupan itu beraneka ragam. Ada suka, duka, tawa, bahagia, kecewa, menangis dan menyesal. Memang bahan baku bingkai dibuat oleh tukang kayu atau mebel. Bahan baku bingkai kehidupan memang berasal dari Tuhan. Manusia yang mencoba membuat dan menghiasi bingkai kehidupannya sendiri. Mungkin kalian pernah tau ada sebuah adat yakni orang tua menuliskan sesuatu di kertas putih sambil menggendong anaknya yang baru lahir. Ada tulisan harapan orang tua yang menggambarkan kehidupan anaknya di masa depan nanti. Begitu juga bingkai kehidupan, mau dicetak dan dipoles bagaimana tergantung pemiliknya.
Rezeki, jodoh dan ajal memang sudah ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfudz. Saat kita terlahir di dunia, melepaskan genggaman tangan dan menangis membuat kita lupa akan semua janji-janji hamba kepada Pencipta-NYA. Agama Islam mengajarkan berupa firman Allah bahwa "Tidak akan dirubah nasib seseorang, kecuali mengubahnya sendiri". Sedangkan ajal adalah pengecualian karena tidak bisa dimaju atau dimundurkan waktunya, tugas manusia hanya menghias bingkai kehidupan yang terbaik tiap harinya agar siap ditunjukkan kepada Tuhan di fase keabadian nanti.
Ajal memang berbeda dengan rezeki, jika terlahir miskin akan selamanya miskin apabila tidak berusaha mengubah nasib. Makanya orang merantau demi mengadu nasib di kota bahkan negara lain. Apabila sudah berikhtiar, namun masih belum berubah menjadi lebih baik baru bertawakkal (menyerahkan kehendak-NYA). Kadang manusia rakus, memang itu sifat manusiawi yang harus dihindari. Jika porsi rezeki berlebih akan tumpah juga, memang sepantasnya harus disedekahkan bukan malah masuk kantong yang akhirnya jebol dan hilang seperti ATM dibobol. Hehe.
Jangan mudah menyerah sebelum berikhtiar, tetaplah tangguh pada hasil akhirnya. Jangan larut dalam kesedihan, buatlah bingkai kebahagiaan lebih banyak.
Bingkai kehidupan selalu berpasangan seperti garam dan gula yang hambar tanpa kehadiran keduanya dalam makanan. Suka dan duka pasti hadir, makanya jangan terlalu bahagia berlebih saat memperoleh kesenangan. Setiap ada tawa pasti ada duka, begitu sebaliknya jangan menumpahkan seluruh air mata saat kesedihan melanda. Percayalah bahwa dalam setiap bingkai kehidupan terdapat potret kehidupan. Ada keluarga yang setia mendukung, teman, sahabat dan lainnya yang akan menjadi saksi perjalanan hidup.
Ingatlah kita hidup di dunia tidak sendiri, banyak sekali pendamping yang setia menemani. Ajaklah mereka saling melengkapi bingkai kehidupannya. Kita sendirilah yang berhak menentukan bingkai kehidupan masa lalu, saat ini dan masa depan dengan syarat mendapat ridho Tuhan. Bagaimana agar tercapai ? Jawabannya mudah, penuhi peritah-NYA dan jauhi larangan-NYA.
Sudah siap membuat bingkai kehidupan terbaikmu ?
Jika masih banyak kekurangan, berbenahlah diri selagi diberi kesempatan. Jangan sampai menyesal karena bingkai kehidupanmu hancur ketika menghadap Sang Penyedia bingkai kehidupan (Azzah wa jalla).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar