Part sebelumnya sudah membahas bingkai kehidupan. Sekarang kita akan lanjut membahas tempatnya bingkai kehidupan yaitu panggung sandiwara. Apa yang terlintas dalam benak kita ?
Panggung sandiwara ?
1. Panggung
Tempat pertunjukan yang biasa dipertontonkan dan ditonton. Bumilah tempat yang kita pijak menjadi panggungnya. Banyak sekali pertontonan di dalamnya.
Begitu halnya dengan kehidupan yang mempertontonkan banyak sketsa kehidupan. Ada sebuah istilah sketsa elegi yaitu kerangka kesedihan, namun ada juga yang mempertontonkan kebahagiaan. Semua tontonan yang ada di panggung sandiwara bisa berakhir dua kemungkinan yaitu happy ending or sad ending.
Sebenarnya dalam kamus hidup saya yang berlandaskan pedoman Al-Quran wajib happy ending dan haram sad ending.
Setiap manusia ingin mengakhiri kehidupannya di panggung sandiwara (dunia) dalam keadaan Husnul Khotimah (kebaikan). Semuanya ditentukan oleh peran yang ditimbulkan dari fikiran diri sendiri, jika memang berfikir positif maka hasil akhirnya juga positif. Berbeda dengan manusia yang berfikir negatif, maka selamanya akan berdampak negatif karena tanpa disadari akan perbuatan atau sikapnya akan mewujudkan sama seperti apa yang difikirkan.
Ingatlah bahwa di panggung banyak akan ditemukan properti sebagai alat pendukung peran atau bahkan properti yang membahayakan. Dalam kehidupan nyata yang menjadi properti terbaik adalah iman dan taqwa. Saat hidup sudah berbalut iman dan berhias taqwa, maka kebaikan akan selalu menyertai.
2. Sutradara
Panggung sandiwara tidak akan tercipta tanpa adanya sutradara. Sudah bisa ditebak kan sutradara kehidupan ?
Iya, Allah Yang Maha Esa adalah Sang Pembuat Skenario semua makhluk hidup di muka bumi ini. Alur ceritanya tidak bisa ditebak, hal tersebut menjadi hak priogratif Allah Yang Maha Esa. Jadi tidak perlu khawatir akan semua takdir yang dijalani, misal khawatir jodoh datang terlambat atau rezeki akan tertukar. Semuanya sudah tertulis bagian kehidupan kita di lauhul mahfuz (tempat catatan takdir manusia). Jika kita memang beriman, maka harus percaya akan qada dan qadarnya. Ingat firman Allah "Bahwa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah". Jadi Allah adalah sutradara paling terbaik yang tidak perlu diragukan dalam membuat alur cerita kehidupan hambanya. Cobalah untuk menikmati dan mengambil hikmah dari setiap kejadian, maka hidupmu akan bahagia.
3. Aktor/artis
Kalau sudah ada sutradara dan panggung, pasti asa artisnya sebagai pemerannya. Manusia adalah artis yang awalnya ditentukan menjadi protagonis semua. Sebenarnya tidak ada manusia yang jahat, kadang lingkungan dan kebiasaanlah yang menjadikan si protagonis menjadi antagonis. Jika kita berteman dengan seorang penjual minyak wangi, maka akan tercium juga harumnya. Begitu sebaliknya, jika kita berteman dengan maling ada kemungkinan terseret juga menjadi maling atau terduga. Jadilah aktor/artis protagonis (melakukan kebaikan tanpa melakukan kejahatan kepada orang lain). Mentaati aturan dan menjauhi langgaranNYA.
Kita mengetahui bahwa peran protagonis yang paling disuka oleh penonton, begitu sebaliknya antagonis sangat dibenci. Sekarang tinggal memilih ingin dicintai atau dibenci. Pilihan ada pada diri kita sendiri, bahkan ada yang hanya menjadi peran pembantu. Jika ingin mengambil peran penting, jadilah pemeran utama. Berani mengambil keputusan dan bersikap untuk kehidupan diri sendiri.
4. Penonton
Jika semuanya sudah lengkap, jadilah sebuah tontonan. Lalu siapa yang menonton ?. Iya, penonton. Jika sutradara dan aktor/artis berkarya, maka penonton hanya bisa menikmati hasil karya orang lain. Sebenarnya tidak ada larangan menjadi penonton, namun diharapkan tidak selamanya menjadi penonton.
Cobalah untuk berinovasi, berkontribusi dan menginspirasi. Jika orang lain bisa, seharusnya diri sendiri mampu juga bahkan bisa melampui batasnya. Jika selamanya memilih jadi penonton, maka akan tertinggal jauh. Buktinya saja Indonesia akan selamanya menjadi negara berkembang jika warganya hanya menjadi penonton tanpa beraksi untuk berinovasi. Jadi, mulai saat ini kita mulai menggali potensi diri agar menjadi aktor/artis dan tidak selamanya menjadi penonton.
Panggung sandiwara ?
Panggung teater ?
Drama sinetron ?
Pertunjukan di atas panggung ?
dan lainnya tentang dunia acting.
Dunialah yang menjadi panggung sandiwara. Jika membahas sandiwara, pasti terdiri dari berbagai komponen di dalamnya. Ada sutradara, panggung, artis, dan penonton. Apa saja itu ?. Pasti sudah tidak asing di telinga kita, semuanya bisa dipelajari satu persatu hubungannya dengan dunia.
1. Panggung
Tempat pertunjukan yang biasa dipertontonkan dan ditonton. Bumilah tempat yang kita pijak menjadi panggungnya. Banyak sekali pertontonan di dalamnya.
Begitu halnya dengan kehidupan yang mempertontonkan banyak sketsa kehidupan. Ada sebuah istilah sketsa elegi yaitu kerangka kesedihan, namun ada juga yang mempertontonkan kebahagiaan. Semua tontonan yang ada di panggung sandiwara bisa berakhir dua kemungkinan yaitu happy ending or sad ending.
Sebenarnya dalam kamus hidup saya yang berlandaskan pedoman Al-Quran wajib happy ending dan haram sad ending.
Setiap manusia ingin mengakhiri kehidupannya di panggung sandiwara (dunia) dalam keadaan Husnul Khotimah (kebaikan). Semuanya ditentukan oleh peran yang ditimbulkan dari fikiran diri sendiri, jika memang berfikir positif maka hasil akhirnya juga positif. Berbeda dengan manusia yang berfikir negatif, maka selamanya akan berdampak negatif karena tanpa disadari akan perbuatan atau sikapnya akan mewujudkan sama seperti apa yang difikirkan.
Ingatlah bahwa di panggung banyak akan ditemukan properti sebagai alat pendukung peran atau bahkan properti yang membahayakan. Dalam kehidupan nyata yang menjadi properti terbaik adalah iman dan taqwa. Saat hidup sudah berbalut iman dan berhias taqwa, maka kebaikan akan selalu menyertai.
2. Sutradara
Panggung sandiwara tidak akan tercipta tanpa adanya sutradara. Sudah bisa ditebak kan sutradara kehidupan ?
Iya, Allah Yang Maha Esa adalah Sang Pembuat Skenario semua makhluk hidup di muka bumi ini. Alur ceritanya tidak bisa ditebak, hal tersebut menjadi hak priogratif Allah Yang Maha Esa. Jadi tidak perlu khawatir akan semua takdir yang dijalani, misal khawatir jodoh datang terlambat atau rezeki akan tertukar. Semuanya sudah tertulis bagian kehidupan kita di lauhul mahfuz (tempat catatan takdir manusia). Jika kita memang beriman, maka harus percaya akan qada dan qadarnya. Ingat firman Allah "Bahwa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah". Jadi Allah adalah sutradara paling terbaik yang tidak perlu diragukan dalam membuat alur cerita kehidupan hambanya. Cobalah untuk menikmati dan mengambil hikmah dari setiap kejadian, maka hidupmu akan bahagia.
3. Aktor/artis
Kalau sudah ada sutradara dan panggung, pasti asa artisnya sebagai pemerannya. Manusia adalah artis yang awalnya ditentukan menjadi protagonis semua. Sebenarnya tidak ada manusia yang jahat, kadang lingkungan dan kebiasaanlah yang menjadikan si protagonis menjadi antagonis. Jika kita berteman dengan seorang penjual minyak wangi, maka akan tercium juga harumnya. Begitu sebaliknya, jika kita berteman dengan maling ada kemungkinan terseret juga menjadi maling atau terduga. Jadilah aktor/artis protagonis (melakukan kebaikan tanpa melakukan kejahatan kepada orang lain). Mentaati aturan dan menjauhi langgaranNYA.
Kita mengetahui bahwa peran protagonis yang paling disuka oleh penonton, begitu sebaliknya antagonis sangat dibenci. Sekarang tinggal memilih ingin dicintai atau dibenci. Pilihan ada pada diri kita sendiri, bahkan ada yang hanya menjadi peran pembantu. Jika ingin mengambil peran penting, jadilah pemeran utama. Berani mengambil keputusan dan bersikap untuk kehidupan diri sendiri.
4. Penonton
Jika semuanya sudah lengkap, jadilah sebuah tontonan. Lalu siapa yang menonton ?. Iya, penonton. Jika sutradara dan aktor/artis berkarya, maka penonton hanya bisa menikmati hasil karya orang lain. Sebenarnya tidak ada larangan menjadi penonton, namun diharapkan tidak selamanya menjadi penonton.
Cobalah untuk berinovasi, berkontribusi dan menginspirasi. Jika orang lain bisa, seharusnya diri sendiri mampu juga bahkan bisa melampui batasnya. Jika selamanya memilih jadi penonton, maka akan tertinggal jauh. Buktinya saja Indonesia akan selamanya menjadi negara berkembang jika warganya hanya menjadi penonton tanpa beraksi untuk berinovasi. Jadi, mulai saat ini kita mulai menggali potensi diri agar menjadi aktor/artis dan tidak selamanya menjadi penonton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar