Selasa, 21 Januari 2020

Filosofi Masakan Wanita

Challange Menulis Hari Ke-2 Terlewati

Masih ingat memoriku 
Akan hutang menulis yang belum dibayar
Begitulah jika berjanji atas nama cinta pasti ditepati

Ingin kubagi cerita
Moment yang terlewati
Belajar memasak untuk tamu spesial

Kesekian kalinya kedatangan tamu misteri
Bukan seorang yang diutus peri
Bukan juga penjual teri

Lantas kubingung akan menyajikan apa
Masak kopi saja kadang pahit
Namun tak sepahit masa lalu yang mengecewakan

Bersyukur punya guru private sejak kecil yang kupanggil ibu
Diajar masak kue brownies dan cheese cake
Rasanya semanis janji tamu untuk masa depan

Hai wanita...
Tidak cukup hanya pandai berdandan
Tanpa kenal dengan wajan atau kue rasa pandan

Tugasmu di kasur, dapur dan sumur
Jadi slogan mengglobal
Sungguh kubangga jadi sosokmu

Masakan wanita yang dimasak sepenuh cita
Ibarat kehidupan yang memberikan aroma rasa
Menggairahkan orang lain untuk mencicipi

Jika hidup penuh suka cita
Orang sekitar akan tertular suka cita
Bukan tertukar jiwa gila

Tak peduli masakan wanita dihina
Lebih baik daripada wanita yang pandai menghabiskan uang saja
Hingga slogan "workshop", suami work dan istri shopping jadi senjata para ibu sosialita

Lucu wanita yang suka masak dengan rasa asin melanda, katanya ngebet nikah
Jangan sampai suami makan di meja makan tetangga
Jika sampai terjadi itu tanda istri yang tega
Membiarkan suami tidak betah di rumah

Masaklah dengan rasa cinta
Cinta untuk keluarga
Cinta untuk siapapun

Resapi dengan varian rasa
Seperti manis atau pahitnya kehidupan
Syukuri karunia  Tuhan Yang Maha Esa

#10harimenulis
#komunitasmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar