Detak jantung terus berbunyi seiring dengan hitungan denyut nadi. Begitulah kehidupan yang terus berjalan mulai dari detik demi detik, berganti menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun. Berbeda halnya dengan kuasa Tuhan yang tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan kehendakNya, cukup mengatakan "Kun Fayakun" maka jadilah. Semua ciptaannya berguna tanpa terkecuali apalagi manusia.
Tuhan telah menitipkan sebuah roh di dalam rahim Bunda Zainab sekitar 22 tahun lalu. Kini gadis itu tumbuh dewasa bernama "Fitriya Kulsum". Sebenarnya arti namanya penuh misteri sampai saat ini, dicari dalam Al-Qur'an tidak menemukan tulisan arab "Kulsum". Hal yang diketahui adalah nama seorang putri Rasulullah yang wafat mendahului ayahandanya. Berharap mewarisi kepribadian baik seperti Ummi Kultsum yang terus melekat pada dirinya.
Kalian tau siapa gadis tersebut ?
Apakah kembaran saya ?
Jelas bukan, dia adalah saya sendiri.
Mungkin orang bosan mendengar kisah hidup saya, tapi saya tidak pernah bosan untuk menceritakan. Selama ini orang yang mengenal saya hanya tau sepenggal kisah saja.
Saya sudah menjalani lika-liku kehidupan sejak bayi, bagaimana bisa ?.
Kisah ini berawal sejak saya berumur 9 bulan, takdir pahit yang harus dialami berpisah dengan Bapak kandung. Hanya ada satu kalimat yang jadi penguat hingga saat ini.
"Tuhan...Saya tidak takut"
Waktu itu saya belum paham dunia, mungkin jika peristiwa itu dialami saat sudah dewasa maka dipastikan pemberontakan akan terjadi. Apa daya saya hanya bisa menangis tanpa kedua orang tua paham akan kode tangisan itu.
"Tuhan...Saya tidak takut"
Engkau selalu memberikan kejutan dengan hadirnya keempat bàpak setelah Bapak kandung. Pilihan akhirnya jatuh pada no 4, hingga saat ini saya memanggilnya Bapak Zainuddin. Nama yang serasi bersanding dengan Bunda Zainab yang sudah Tuhan jodohkan untuk mengasuh saya sejak kecil. Saya sangat mengagumi sosok Bunda Zainab atas ikhtiarnya mencarikan bapak terbaik untuk putri sulungnya. Bunda ingin saya hidup layaknya anak yang mendapat kasih sayang seutuhnya dari kedua orang tua lengkap.
"Tuhan...Saya tidak takut"
Engkau mendatangkan cobaan silih berganti. Peristiwa saat kelas 3 SD mendapat kabar tamparan petir, perih sakit dan sangat terluka. Bisa kalian bayangkan ? Bapak kandung saya menikahi seorang perawan dan mengaku perjaka sejak awal lamaran. Apa yang kalian fikirkan ?.
Iya, Bapak kandung saya menutupi identitasnya termasuk darah dagingnya sendiri karena suatu hal. Itulah alasannya tertulis nama Bapak Zainuddin di akte kelahiran saya, bukan nama Bapak kandung.
"Tuhan...Saya tidak takut"
Kisah saya berlawanan dengan dongeng "Malin Kundang", seorang anak yang tidak mengakui orang tuanya. Saya justru yang tidak diakui oleh Bapak. Saya sangat benci dulu sama Bapak, tapi saat dewasa dijelaskan alasannya akhirnya mau tidak mau harus menerima kenyataan yang sudah berlalu. Kini saya cinta damai dengan Bapak Kandung. Bagaimanapun saya butuh Bapak sebagai wali nikah nanti dan beliau adalah perantara saya terlahir ke dunia. Terima kasih Bapak Marsuki.
"Tuhan...Saya tidak takut"
Saat Engkau berikan ujian
Saat Engkau berikan musibah
Saya tau itu tanda cinta Maha Pencipta pada ciptaanNya
Mungkin dulu jika Fitri kecil tidak diuji
Tidak mungkin akan setegar saat ini
Tidak mungkin akan memiliki mimpi tinggi
Hidup adalah petualangan
Membawa banyak pengalaman
Sebelum kembali ke pangkuanNya
Wahai akhi...
Wahai ukhti...
Jangan larut bersedih hati
Kalian tidak sendiri
Ada Ilahi Robbi
Tempat berserah diri
Jangan merasa paling menderita
Bersyukurlah diuji
Karena pohon semakin tinggi pun tetap diterpa angin
Kalian mau naik kelas ?
Jangan takut melewati ujian
Salah satu proses menikmati kehidupan
Mulai saat ini jangan bersedih hati
Ikhlas pada rencana Ilahi
InsyaAllah jalan hidup selalu diterangi
"Tuhan...Saya tidak takut"
Terima kasih menjadikan saya sosok pemberani
Berani bermimpi dan wujudkan dalam aksi
Semua Hamba Tuhan berhak bahagia
Sedih sewajarnya saja
Bangkit lagi dan jangan pernah putus asa.
Sobat...mari renungkan sejenak atas nikmat Tuhan yang tidak mampu dihitung. Bahagialah saat diuji, tandaya Tuhan rindu kita mendekatkan diri. Tuhan rindu akan curhatan hambaNya, bukan curhat di media sosial. Tuhan rindu akan sujud kita yang lama, bukan main gadget yang lama. Tuhan rindu akan tilawah kita, bukan baca chat di Whatsapp. Sertakan Allah setiap melangkah, insyaAllah jalannya akan dipermudah.
La Tahzan Innallaha Ma'ana (Jangan bersedih, Sesungguhnya Allah bersama kita) 😊

KAK PIPITKU SAYANG🥰🥰🥰
BalasHapusWah maaf saya baru baca komentnya adik Lina sayang🥰🥰🥰
Hapus